Have you ever heard about the slow traveling? It’s always been my biggest dream to do the slow traveling around the world. Gimana gak enak, kalau di saat jalan-jalan kita gak perlu pusing mikirin jadwal karena banyak maunya sementara waktu yang kita punya tidak banyak. Mungkin agak susah untuk pegawai kantoran macam saya merencanakan slow traveling karena keterbatasan waktu cuti. Apalagi untuk slow traveling di luar negeri! Akhirnya, saya dan Tati akan mencoba slow traveling ke Jogja! Gimana gak selooww, orang rencana di sananya saja bias sampai 5 hari! Ngapain aja coba di Jogja 5 hari hayoo…

Day 1 : the arrival and City’s landmark tour

Berusaha untuk menekan pengeluaran di transportasi dan akomodasi, kami pun memutuskan untuk naik kereta malam dari Jakarta menuju Jogjakarta. Pilihan sampai pada Senja Utama Jogja, kelas bisnis (gak yakin sama kondisi tubuh yang menua, sehingga gak mau milih ekonomi hahaha!). Berangkat sekitar jam 8, sampai pas subuh. Lumaya bisa tidur di kereta dan besoknya bisa langsung jalan-jalan (walaupun kenyataanya agak susah tidur karena selalu terbangun di tiap stasiun oleh teriakan para penjual tahu, kopi, dan mi instant).

Saya dan Tati sampai di jogja sekitar pukul 5 pagi. Kondisi waktu itu masih cukup gelap dan sepi. Awalnya saya merasa yakin kalau hotel tempat kami menginap sangat dekat dengan stasiun sehingga kami pun memutuskan untuk jalan kaki. Memang dekat sih, tapi suara roda koper geretan kami lama-lama mengganggu juga. Tampaknya hanya suara “gledek-gledek” dari koper kami itu lah satu-satunya suara bising di keheningan subuh kota Jogja. Menyerah, kami pun memutuskan untuk naik becak. Yang hanya memakan waktu kurang dari 5 menit sudah sampai hotel. Dan kami pun harus mengocek 10 ribu untuk itu. Ya udah lah, daripada ditimpuk massa karena bikin ribut pagi-pagi buta kan?

Kami menginap di Srikandi Hotel yang terletak di jalan Kebon Dalem 2A. Jalannya memang jalan kecil, bahkan sebenarnya jalan buntu. Tapi terletak di jalan utama Pangeran Mangkubumi, hanya kurang dari 5 menit jalan kaki dari monument tugu. Yang bikin saya senang, di jalan kebon dalam ini, ada Gudeg Yu Narni yang merupakan gudeg favorit keluarga saya. Jadi tidak susah beli oleh-oleh deh! Terus terang, saya dan Tati sangat puas dengan pelayanan Srikandi Hotel ini. Tempatnya strategis tapi tidak di pinggir jalan raya, sehingga suasana masih terasa tenang. Para karyawan pun sangat ramah dan baik sekali. Pagi-pagi ketika kami baru sampai, mereka pun memberikan satu kamar untuk kami pakai mandi dengan syarat jangan terlalu diberantakin. Wuih, itu kan lumayan banget buat aktifitas “morning call” dan bersih-bersih sebelum beraktivitas. Bahkan mereka pun mau mencarikan dus kosong ketika kami iseng meminta dus untuk oleh-oleh kepada mereka. Kami pun diantarkan sarapan pukul 3 pagi, sewaktu mereka tau kalau kami akan mengejar sunrise di punthuk setumbu. They really try to make their hotel feels like home! Atau mungkin, itu merupakan salah satu keramahan warga Jogja yang menyambut dan menemani kami selama kami di sana 

Setelah mandi dan sarapan di gudeg Yu Narni yang terletak di depan jalan, kami pun memulai perjalanan kami hari itu. Ini lah itinerary kami :

  1. Masjid Bawah Tanah. Arsitektur yang cantik dan memukau dari zaman dulu. Mesjid yang terletak di bawah tanah ini tidak memiliki sudut sehingga Imam zaman dulu tidak memerlukan pengeras suara
  2. Pemandian keraton Taman Sari. Sayang, terlalu banyak vandalisme di sini. Hhh..
  3. Alun-alun selatan keraton : Mencoba berjalan di antara dua pohon beringin
  4. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
  5. Lunch : House of Raminten. Rasanya sih tidak terlalu enak, cuma penasaran dengan para pelayannya yang katanya “manis-manja” itu..hehehe!
  6. Taking Nap!
  7. Dinner : Jogja Sae seafood
  8. Monumen Tugu. Bolak-balik ke Jogja, baru kali ini lah saya benar-benar melihat monument tugu dari dekat

One of the “corner” of Masjid Bawah Tanah. Well, not really a corner ;)

Haha, tetaplah, ritual wajib saya dan Tati di hari pertama traveling : Tidur siang. Daripada memaksakan badan yang sudah capek dengan perjalanan semalam, kami pun memutuskan untuk tidur siang saja lebih daulu. Malamnya, sambil menikmati suasana angkringan Jogja, kami pun mencoba seafood jogja yang katanya cukup terkenal di dekat stasiun, Jogja Sae. Biar lebih afdol sebagai turis, kami pun iseng mampir ke tugu jogja. Dan ternyata, ramai sekali sama anak-anak ABG lokal ya…..

Kejadian lucu di hari ini adalah ketika saya dan Tati melewati sebuah SD. Segerombolan anak perempuan menatap kami dengan tatapan excited dan tersenyum-senyum. Ketika kami mendekat, salah satu dari mereka pun menyapa, “Anyeonghaseo…”. Nice! Saya dan Tati dianggap sebagai turis Korea! Hahaha, haduh, dasar berdua sipit!

Day 2 : Chasing the sunrise and feast fest

Mendengar kalau sekarang lagi nge-trend menikmati sunrise di Borobudur, Saya dan Tati pun tidak mau ketinggalan untuk menikmati sunrise.  Berhubung kalau menikmatinya DI Borobudur akan mahal (dimonopoli oleh hotel Manohara sehingga untuk menikmatinya harus membayar 250 ribu. Sinting!), kami pun mencoba untuk mampir ke punthuk setumbu. Hasilnya ? Seperti yang sudah kami duga sebelumnya, saya dan Tati pun…gagal mendapatkan sunrise! Hhh…tampaknya memang kami bukan makhluk pagi yaa..hahaha! Dengan alasan yang sama dengan pengejaran sunrise sebelumnya, matahari tampak nyaman bersembunyi di balik awan pagi itu.

Selama dua hari di Jogja, kami menyewa mobil dari perusahaan penyewaan mobil yang dikelola adik sahabat saya,si Arya, bernama Jagawarna. Kalau mau dibandingkan dengan perusahaan mobil lain, memang harga yang ditawarkan termasuk lebih mahal dibandingkan penyewaan mobil lainnya. Tapi berani ditanggung, pelayanannya sangat memuaskan. Mobil yang disewakan tergolong mobil baru dengan tahun keluar paling lama 2011. Berbanding terbalik dengan kemujuran mengejar sunrise, saya dan Tati selalu mendapatkan supir yang enak selama berlibur. Kami kali ini diantar berkeliling Jogja dengan Pak Pipin. Orangnya baik, mengerti betul tempat-tempat makan yang enak, bahkan dengan sigap selalu membantumemilihkan makanan yang enak. Kami menyewa mobil beserta driver dan bahan bakar selama dua hari, dan dikenakan biaya 450 ribu perharinya. Tapi percaya deh, dengan pelayanan yang didapat, pasti serasa worth enough kok!

Di hari kedua ini, kami pun puas menjajal beberapa tempat. Tapi tampaknya hari itu kami lebih banyak makan daripada jalan-jalannya. Berikut itinerary kami hari itu :

  1. Punthuk Setumbu untuk mengejar sunrise. Seandainya cuaca lagi bagus, kami bias menikmati semburat fajar menyinari Candi Borobudur dan Gunung Tidar
  2. Candi Borobudur. Berbaur dengan para turis menikmati hawa sejuk pagi hari
  3. First meal : Mampir ke Mbah Carik – Kaliurang untuk mencicipi Jadah dan Bacem yang wajib untuk dicoba
  4. Ullen Sentalu. Dikenal juga dengan Museum Wanita, karena banyak menjelaskan tentang wanita-wanita keraton. Tempatnya sejuk dan sangat terawat.
  5. Second meal : Makan siang di Jejamuran. Semua makanan yang disajikan di restoran ini menggunakan Jamur sebagai bahan utamanya. Mulai dari keripik jamur, sate, hingga tongseng
  6. Third meal : Mencoba Sate Klatak di jalan mengarah ke Imogiri. Pemakan kambing wajib mencoba sate ini
  7. Ziarah ke pemakaman raja-raja Imogiri. Sayang, waktu itu hujan turun dan sudah sangat sore. Kami pun hanya mencoba menaiki 400 lebih anak tangga yang katanya, hitungan kita dengan teman kita tidak akan pernah sama.
  8. Fourth Meal : Penasaran dengan bakmi Kadin, kami pun nekat ke bakmi kadin dengan perut penuh. Rasanya? Lain kali kalo ke sana harus dengan perut kosong kayaknya, karena jadi kurang nampol. Hahahah!

Looks like tourist enough? ;P

Day 3 : Adventurous and Wow-ing

Ke Jogja gak melulu tentant wisata sejarah. Sejak dulu Jogja dan sekitarnya terkenal dengan wisata guanya. Salah satunya adalah gua pindul dimana kita dapat melakukan cave tubing. Cave tubing itu adalah kegiatan outdoor dimana kita duduk di atas ban dan di tarik mengikuti arus secara perlahan-lahan melewati kedalaman gua. Sebenarnya ini termasuk aktivitas outdoor yang menyenangkan. Kita diajak menyusuri kegelapan gua, mulai dari daerah yang remang-remang, kegelapan abadi, melihat stalagtit terbesar yang mencapai tinggi 8 M (dari langit-langit gua hingga hampir menyentuh dasar sungai tuh!), sekumpulan kelelawar kecil (atau kampret? Hahaha!), bahkan sampai ke kumpulan Kristal yang terbentuk akibat sisa mineral tetesan-tetesan air. Sayangnya, sewaktu saya dan tati mencoba cave tubing, suasana lagi ramai sekali! Bahkan kami sampai macet di dalam gua, hahahaha!

Setelah hampir setengah hari berkegiatan di Gua Pindul, kami pun melanjutkan perjalanan dengan tujuan mengeksplor daerah Gunung Kidul. Ini lah itinerary Saya dan Tati hari itu :

  1. Breakfast : Sarapan di SGPC yang berada di kompleks UGM. Terkenal dengan sego pecelnya yang udah sejak kakek saya kuliah di UGM. Tapi menurut saya pribadi, saya lebih suka pecel Surabaya karena pecel di SGPC termasuk terlalu manis.
  2. Cave tubing Gua Pindul & Rafting Oyo River : Sayang sekali suasana lagi rame-ramenya sehingga kurang menikmati ketenangan gua
  3. Gua Maria : Salah satu gua yang disucikan oleh umat katolik. Guanya benar-benar menakjubkan! Mending langsung aja liat fotonya deh, karena saya sendiri juga bingung mau melukiskannya bagaimana. Bagi umat katolik atau mungkin kristian, menurut saya wajib sekali mendatangi tempat ini. Bahkan bias mencoba jalur salib jika mau. Sangat ramai di hari-hari kebesaran agama dan sering menjadi tempat retret
  4. Sunset di Pantai Ngobaran, Gunung Kidul : Banyak sekali jejeran pantai di sekitar Gunung Kidul. Karena kami mengejar sunset, Pak Pipin pun menyarankan untuk mampir ke pantai ini karena memiliki tempat tinggi untuk melihat sunset. Memang sih, di tempat tinggi dimana kita harus mendaki beberapa anak tangga yang cukup terjal itu sunset akan terlihat sangat bagus….Itu kalau sunsetnya ada! Sama saja seperti saat mengejar sunrise, saya dan Tati pun gagal menangkap lambaian terakhir matahari hari itu…hhhh..
  5. Dinner : Bebek goring Cak Koting. Salah satu tempat makanan wajib coba kalau ke jogja. Bebeknya guriiih…
  6. Last stop, belanja batik ke rumah batik. Harus pintar memilih batik di antara tumpukan batik yang ada di toko-toko ini. Saya dan Tati lebih memilih berbelanja di sini karena kualitas batik yang ditawarkan memang bagus. Jelas lebih mahal daripada yang ada di Malioboro. Tapi toh tidak terlalu mahal kok, apalagi kalau dibandingkan dengan di Jakarta.

Hal yang paling “wow”-in menurut saya di hari itu adalah Goa Maria. Awalnya saya tidak tau mengenai gua tersebut hingga Tati menyebutnya. Mumpung masih dalam suasana paskah, maka kami pun mencoba untuk kesana. Dan benar saja, saya sama sekali tidak menyesal! Sambil menunggu Tati berdoa, saya tidak ada habisnya berdecak kagum terhadap ciptaan-Nya.  Guanya memang tidak dalam dan mungkin lebih pas disebut sebagai ceruk. Posisi patung Maria di bawah Stalagtit berwarna abu-abu dan gelap yang menurut saya justru menambah kesakralan di tempat itu.

The Wow-ing of the day. Gua Maria

Day 4 : The positive thing for having relation in the city you visiting

Tidak ada rencana khusus hari itu karena siangnya kami akan bertemu dengan keluarga sahabat saya, Om dan Tante Risman. Om Risman dulu bekerja di PT Badak, sekantor dengan papa saya dan menikmati masa pensiunnya di Jogja. Keluarga saya dan keluarga mereka sangat dekat, karena bukan hanya saya dan Nanet (anaknya) bersahabat, mama pun bersahabat dengan si Tante. Rasanya agak durhaka kalau udah lama di Jogja tapi sama sekali tidak mampir.

Hari keempat kami di Jogja tepat dengan hari paskah. Tati pagi-pagi sudah ke gereja sementara saya lanjut tidur dan leyeh-leyeh di kamar. Nah, lagi enak-enaknya leyeh-leyeh tiba-tiba si Tante telpon dan bilang akan menjemput kami sekitar pukul 10. Dan itu sudah pukul 9. Kontan saya bangun dan panik. Untung Tati juga sudah selesai gereja dan tepat beberapa menit Tati sampai hotel, Tante Risman pun sampai hotel dan memboyong kami jalan-jalan. Temanya hari itu adalah silaturahmi. Karena itu kami hanya berpikiran untuk makan siang bersama, bersantai di rumah Om dan Tante, cemil-cemil lucu bersama mereka malamnya, dan pulang. Saya dan Tati pun mampir ke tempat berikut ini :

  1. Sayur cabe hijau khas mbah Tjarik : Sayuran ini terkenal sekali di daerah gunung kidul. Bentuknya seperti sayur lodeh. Makan pakai nasi merah dan ikan wader (ikan sungai kecil-kecil yang digoreng garing), enaknya pool! ada juga Ayam goreng, jeroan goreng (babatnya enak deh!), dll dsb. Makannya lesehan. Aduuh..pokoknya ini tempat makan paling enak yang pernah saya coba di Jogja sampai saat ini
  2. Bakpia 5555 : Letaknya di daerah Bantul. Jujur, saya tidak terlalu suka Bakpia. Tapi begitu mencicipi Bakpia ini, saya langsung nambah terus-terusan! Kulitnya tidak gampang tercecer seperti bakpia pada umumnya. Isinya padat dan ada berbagai macam rasa, mulai dari kacang hijau hitam dan putih, juga ketela ungu dan ketela madu. Enaak! dan super murah! Rp 6.000,- @10 biji dan kotak besar Rp 12.000,- @20 biji. Isinya boleh kombinasi rasa.
  3. Kalimilk : Katanya sih tempat tongkrongan gaul anak-anak Jogja sekarang. Menyajikan susu murni berbagai macam rasa dan beberapa makanan ringan. Sayang waktu itu makanannya pada habis sehingga kami hanya memesan susu murninya. Rasanya? Ha! enakan susu murni di Bandung! hahaha…
  4. Angkringan dan Kopi Joss : Karena masih lapar, setelah diantar pulang oleh om dan tante Risman, saya dan Tati pun menyusuri jalan Jogjakarta untuk mencicipi Sego Kucing. Kami pun ke angkringan Lik Man yang katanya juga terkenal. Yah, rasa nasi dan lauk-pauknya standar jajanan pinggir jalan. Tapi kopi jossnya? uuuhh..manis! kami lupa untuk memesan tanpa gula. Alhasil, hanya 2 teguk saja kami minum di 1 gelas besar yang kami pesan

Bersyukur sekali punya kenalan dekat seperti om dan tante, karena kami bisa makan enak (dan gratis, hehehe) di tempat yang jauh hingga bantul dan gunung kidul. Makasi banyaaak om dan tanteee

Melewati hutan pinus setelah kenyang makan sayur sambel ijo

Day 5 : Chasing the legend on the last day

Hari terakhir! Kami sengaja memilih pesawat sore sehingga paginya kami masih memiliki waktu untuk sekedar berjalan-jalan. Berhubung kami belum sempat ke Prambanan, akhirnya kami pun memutuskan untuk ke Prambanan naik Transjogja. Berangkat sih gampang, karena bus transjogja pasti ngelewatin Prambanan. Tapi pulangnya, duh, agak bingungin sih. Yang kurang dari Transjogja adalah gak jelas petanya. Ada peta, tp gak ada nama haltenya. Ya kali kita harus make metode ngitung?? huhuhu…

Waktu itu panaaas banget. Sampe saya sakit kepala. Saking tidak kuatnya, kami memperpanjang waktu check-out hingga jam 3. Setelah tidur sebentar, kami pun berangkat ke airport. Tapi…sebelumnya mampir dulu di legenda ayam goreng Indonesia. Ny. Suharti! Hahahaa..kami pun penasaran untuk mencicipi rasa asli Ny. Suharti. Hm, memang beda sih yaa…lumayan lah tapi, menghilangkan rasa sakit kepala saya. hahaha!

Well, tanpa merasa lelah yang berlebihan, kami bisa mendapatkan hampir semua tujuan wisata termasuk wisata kuliner di Jogjakarta. Itulah inti dari slow traveling. Feel di suatu kota jadi semakin terasa. Pulang liburan pun berasa fresh, bukannya pegel-pegel karena terlalu diforsir jalan berlebihan. Worth trying ko! ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s