Aku, Film dan Novel

Posted: December 24, 2009 in Life|Love|Souls|Conspiracies

Dua hal yang mewarnai hidupku.  Ada di saat aku sedih, senang, marah, stress, bahkan biasa saja.  Dua hal yang melengkapi hobiku.  Ya, aku hobi membaca novel dan menonton film.  Keduanya kudapatkan dari orang tuaku.  Ibuku dengan hobi membacanya dan ayahku yang tidak akan bisa diganggu jika sudah menonton film.

Dari kecil aku sudah memperlihatkan hobi membaca.  Tidak pernah lupa saat pertama kali mampu membaca kerjaanku adalah membaca semua tulisan yang ada di papan reklame pinggir jalan.  Atau saat pertama kali mengenal dunia internet saat kelas 2 SD, salah satu situs yang sering aku kunjungi adalah situs yang menyajikan cerpen2 untuk anak.  Ya, aku sangat suka membaca.  Dari komik sampe novel.  Bacaan berat? hm, aku suka membaca buku2 self improvement, psikologi, dan aku juga pernah tergila-gila dengan buku sastra dan biografi Soe Hok Gie.  Tapi jujur saja yang paling kusuka adalah novel, dengan segala jenis genrenya.  Tak lebih karena aku suka berkhayal dan bermimpi.

Dengan novel, aku bebas berimajinasi, berkhayal, bermimpi.  Mengimajinasikan bagaimana wujud Voldemort dalam pikiranku, merealisasikan aksi anti-terorisme Jack Ryan, dan bertualang bersama Dr. Robert Langdon memecahkan kode-kode rahasia vatikan.  Aku suka berusaha menyelami pikiran-pikiran Dan Brown, J.K Rowling, Tom Clancy, John Grisham, bahkan Enid Blyton.  Tentu saja aku juga ingin mengenali makna-makna bahasa Marah Roesli, Sutan Takdir Alisyahbana, HAMKA, atau Djenar Maesa Ayu, Seno Gumira Ajidarma, bahkan Andrea Hirata.  Semakin susah bahasa mereka, dengan anehnya aku semakin suka mencoba menyelami dunia seperti apa yang mereka tawarkan, karakter dan tokoh seperti apa yang mereka perkenalkan.

Mungkin karena itulah aku sering kecewa dengan film yang diadaptasi dari cerita novel.  Akan sangat berbeda dari bayanganku.  Tapi ya, aku hanya bisa bersungut-sungut jengkel, karena mimpi,khayalan dan imajinasi orang tentu berbeda.  Bisa saja aku salah membayangkan apa yang dimaksudkan oleh pengarang.  Tapi bagaimana pun juga aku tetap mencintai film.

Dengan film, aku tak perlu capek2 membayangkan apa maksud sang sutradara, tidak perlu mengkhayalkan apa yang mereka ceritakan.  Aku cukup perlu menyelami perasaan, tiap tutur kata dari naskah yang diucapkan para karakter, tiap makna dari adegan-adegan yang disuguhkan.  Aku cukup terlena, membiarkan mereka membuat aku menangis, tertawa bahagia, menggeram sebal, atau mungkin merinding ketakutan.  Aku menikmati jutaan perasaan dan emosi yang mereka tawarkan.  Hanya dengan melihat, sedikit mencerna, dan aku pun akan masuk ke dunia yang sama dengan mereka.  Aku juga berada dalam ruang operasi Meredith Grey, aku juga berada dalam hutan vietnam Rescue Dawn, aku berada di tengah peperangan antar robot Transformer, atau mungkin aku pun merasa dikejar-kejar zombie Rec dan menangis di kantor NASA melihat Bruce Willis dalam Armageddon.  Ya, Aku menyukai semua jenis film.  Karena itu tadi, aku seorang pengkhayal, pemimpi, dan orang yang sangat suka berimajinasi.  Dengan  suguhan visualisasi yang sudah jelas itu, tidak mungkin akan kulewatkan begitu saja.   

Film dan Novel, mungkin tampanya aku akan mengalami hidup yang biasa-biasa saja.  Tidak ada mimpi, tidak ada khayalan.  Mereka lah sahabat-sahabatku yang membawaku menyelami segala perasaan dan emosi yang pernah ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s