Kawah Putih – Ciwidey

Posted: January 22, 2010 in Lifestyle, Travelling and Culliner
Tags: ,

Just went there about 2 days ago with my besties, Kujah.  It’s the second time i visit Kawah Putih, but it’s the first time i drive by myself to there.

Banyak hal-hal yang menarik yang gwe temuin kali ini saat gwe nyetir sendiri.  Entah kenapa, dari awal, dari gwe melintasi Tol menuju Kopo, gwe melihat puncak tempat Kawah Putih berada seperti memanggil-manggil.  Berkabut, tapi justru memancing rasa penasaran apa yang ada di baliknya.  Bongkahan biru beludru gunung-gunung seperti menyembunyikan tiap kejutan yang akan diperlihatkan perlahan-lahan. Tahap demi tahap.

Perjalanan melewati banyak sawah-sawah.  Bener-bener seperti permadani hijau.  Bentangan alam yang kalau diperhatikan lama-lama ternyata sedang menghipnotis kita.  Benar-benar seperti yang ada di buku IPS zaman SD dulu.  Saat indonesia termasuk pemasok beras terbesar.  Saat orde baru dengan senyuman eyang Soeharto ikut menumbuk padi bersama petani atau bu Tien yang memberikan imunisasi kepada bayi di suatu posyandu (oh, my god. Do we still have it?Posyandu?). Melajulah mobil gwe melintas membelah hamparan permadani hijau tadi. Langsung mengarah ke bongkahan biru beludru di balik kabut itu.

Kami melewati Kopo. Masih rame karena saat itu sore sekitar jam 4 kurang, saat orang2 juga mulai memenuhi jalan raya untuk menyelesaikan pekerjaan atau mulai pulang.  Lucu juga Kopo ini. Semua serba kecil dan yang penting ada.  Mereka punya Pizza Hut. Tapi mungkin hanya sebesar rumah Manager di Komp. PT. Badak Bontang.  Atau justru sebesar rumah gwe? Well, sambil bercanda dan mengenang lagu2 zaman SD (boyband of course, what else did you hear when you’re, twenty-something people, still in Elementary School?) kami melewati Kopo dan memasuki daerah Kabupaten Bandung. Mengarah ke kantor Pemdanya, mengarah ke Soreang, dan tentu saja akan mengarah ke Ciwidey.

Setelah melewati kantor pemda, jalanan pun mulai menanjak.  Seakan belum cukup apa yang sudah disuguhkan kepada kami saat melintasi Tol tadi, kami pun disuguhi pemandangan alam yang gak kalah menakjubkannya.  Bertumpuk-tumpuk sawah, yang kita sebut sangkedan/terasering. Lengkap dengan kali yang mengalir di kaki bukitnya, dan bukit-bukit hijau yang meliuk-liuk, dan tentu saja langit biru cerah karena telah dibasuh hujan sebelumnya. Ah, dan pondok-pondok tempat petani beristirahat atau memegang tali untuk menggerakkan orang-orangan sawah yang berdiri di tengah sawah.  Sekali lagi, bener2 seperti yang ada di buku IPS SD! Bener2 memperlihatkan, inilah kekayaan Indonesia yang sebenarnya. Gwe pernah mengabadikan pemandangan ini waktu pertama kali pergi ke arah kawah putih. Ini lah hasil jepretannya

Sangkedan (udah ada kabel listrik😛 )

Belum selesai kita mengagumi keindahan alam tersebut, kita pun melewati jalanan berkelok. Jurang di kanan, tebing berlumut di kiri. Tapi bukannya mengerikan, justru kami merasakan kehebatan alam lagi.  Belum lagi disamping kiri kita ada jembatan rel yang dibangun saat penjajahan Belanda.  Sudah tidak digunakan lagi selain sebagai objek foto. Merah, tegap, dan kokoh.  Terbayang bagaimana dulu jembatan ini dibangun. Sayang 2x ke sana, gk sempet berhenti untuk mengambil foto. Maybe next time!

Perjalanan selanjutnya tidak terlalu menarik, karena kami bener2 menanjak. Melewati perkebunan Strawberry, melewati perbukitan, melewati hutan.  Apalagi begitu memasuki gerbang Kawah Putih, mobil terus menanjak di jalan yang tidak terlalu rata, ditemani hutan-hutan, dan ada beberapa jalur yang harus menggunakan perseneling 1.  Sekitar 5km menanjak, akhirnya kami pun sampai di kawasan Kawah Putih.

Kawah Putih waktu itu sedang berkabut.  Termometer dalam Billy menunjukkan suhu di luar mobil 16 derajat. Dan suasana cukup berangin. 16 derajat + kabut + angin.  Tapi, justru kabut itu membawa suasana yang agak mistis.  Makin menantang untuk dijelajahi…dan inilah tampang kami yang berjuang menahan dingin namun tetap gaya.

Kedinginan vs gaya

Sekitar sejam kami disana, foto2, gak peduli seberapa dinginnya.  Karena mungkin persahabatan kami juga yang menghangatkan suasana saat itu…:P

Sayang juga kawah putihnya kabut, padahal waktu pertama kali ke sana, gwe bisa menikmati sunset.

the sunset

The Sunset

Me watching sunset from the other side of Kawah Putih

Tapi baguslah, berarti gwe pernah merasakan 2 keadaan yang berbeda saat mengunjungi kawah putih😀

Tepat pukul 6 kami pun turun dari ciwidey.  Dan seakan belum puas menyuguhkan keindahan alam mulai dari pergi sampai kami di ciwidey, pemandangan saat turun pun gak kalah fantastisnya.  Siluet tangkuban perahu seakan menyambut kami.  Langit yang berwarna jingga seperti layar dengan matahari terbenam sebagai spotlightnya.  Kabut dan awan masih menyelimuti pegunungan-pegunungan yang berdiri tegas di hadapan kami. Bongkahan biru beludru itu makin banyak, seperti lautan, lapis demi lapis, bertumpukkan.  Dan yang tidak mau ketinggalan, muncul di saat2 terakhir senja, seakan tahu dia lah bintang utama dari pertujunkkan maha dahsyat ini….kami pun melihat pelangi.  Ya, pelangi.  Lengkungannya besar, tapi tidak sempurna.  Tapi yang kurasakan, dia memeluk hamparan pegunungan tadi.  Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.  Dengan latar orange, dan hamparan biru beludru.  Indah. Manis. ya, manis, itu tepatnya yang gwe rasakan.  Subhanallah!  Benar2 sayang kami gk bisa mengabadikannya, karena selain gak ada tempat berhenti yang tepat, kamera gwe pun habis batere….:(

Gwe ngerasa bener2 diperlihatkan slide2 keindahan alam. Dahsyat memukau!

Thanks to Kujah yang udah memanasi dan menyemangati gwe untuk rela nyetir selama 4 jam.  Gak rugi…gak ada ruginya!

Comments
  1. mikha_v says:

    Wah masih ingat saja pelajaran IPS waktu SD. Posyandu? haha. Mungkin beberapa tahun terakhir ini, aQ baru pertama kali lagi membaca kata itu, yaitu di sini.

    By the way, menurutmu kawat listrik/tiang listrik “merusak” foto pemandangan alam kah?

    • Hahahaa…sama aja tuh sama sangkedan…hahaha…itu gw sebut dengan “bahasa SD”

      Hmmm..gk juga sih mik,justru menarik krn ada sentuhan “teknologi” n gw pikir kabel2 melintang itu lebih ndesoo krn d beberapa ko dah gk ada lg kbel2 melintang…hehehe…walopun pas moto jd khalang n harus caro angle2 tepat untuk moto…:p

  2. ladysherry says:

    “persahabatan kami juga yang menghangatkan suasana saat itu”
    sweet🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s