Rumah kedua bernama kos-kosan

Posted: June 2, 2010 in college and dorm life
Tags: , , , ,

Entah kenapa, anak kosan selalu diidentikan dengan kesusahan.  Susah makan, namanya juga anak kosan. Seret duit, namanya juga anak kosan.  Jarang mandi, namanya juga anak kosan. Tidur n makan gak teratur, namanya juga anak kosan.  Lama-lama, kata-kata “anak kosan” bisa jadi semacam excuse untuk kami, para “anak kosan”, untuk hidup secara tidak teratur😀 .  Meskipun tinggal di kosan yang harga sewanya bisa mencapai lebih dari 1,5 jt/bln, ntah mengapa, karena punya predikat “anak kosan”, sering juga dikasihani sama anggota keluarga.

Tapi coba deh, kita-kita ini sebagai si anak kosan, merasa sesengsara itu kah “numpang” di rumah orang lain, berbagi atap dengan orang yang tidak dikenal (bahkan mungkin kamar atau kamar mandi), dan hidup selama bertahun-tahun dengan orang yang benar-benar baru dikenal? Hampir 4 tahun gwe memiliki predikat “anak kosan”, gwe akan menjawab, TIDAK!

Zaman TPB, gwe ngekos di daerah cisitu.  Modelnya beneran rumah, bukan bangunan yang dibagi2 menjadi banyak kamar layaknya kos2an. Ada yang punya,dapat makan, tp karena rumah ya kamar mandinya berbagi.  Gak boleh terlalu ribut, pulang agak malaman juga merasa gak enak.  Gak berasa ngekos! Sampai akhirnya gwe pindah ke daerah Kanayakan, tepatnya Kanayakan Baru.

Gwe termasuk penghuni pertama di kosan ini.  Gwe pun menjadi penonton setia keluar-masuknya penghuni kosan ini, tapi banyak juga yang bertahan selama 3 tahun bersama gwe.  Mereka-mereka yang tahan banting tersebut adalah Fiona, Ayu, Giffa, Anggi, Feby, Kak Farah, dan Nela.  Tapi bukan berarti hanya dengan mereka saja gwe deket, teman-teman kosan yang masuk belakangan seperti  Gina, dwiki, isty, mirlan, melia, agni dan beberapa lainnya juga sering berbaur dengan para penghuni “perintis”😀 Bahkan kami tetap menjalin persahabatan dengan beberapa teman kami yang sudah keluar dari kosan seperti Wiwi, Mona, Dona, Senia, Evi, Steffi.  Liat aja gmana mellownya gwe waktu si Senia, Evi n Steffi bersamaan keluar dari kosan😛

Segitu banyak orang. Ada yang dari medan, pangkal pinang, lampung, manado, banyak dari Jakarta, bahkan dari Malaysia.  Begitu banyak sifat dan sikap yang dibawa masing-masing orang dan “dipaksa” untuk berbaur dibawah satu atap.  Jadi? apa yang membuat gwe berkata gwe sama sekali tidak sengsara tinggal bersama mereka? banyak perbedaan, banyak penyesuaian, sudah seperti tugas tambahan aja setelah pulang dari banyaknya masalah di kampus. Tapi, tetap, saya tidak merasa sengsara tinggal berjubel dengan mereka. Mengapa?

Bagaimana kita gak bahagia kalo yang kita lakukan selalu hal-hal gila penghila stress. Tertawa sampai mabuk atau bahkan curhat sampai mata bengkak.  Seperti menemukan keluarga baru. Ya, kami seperti halnya keluarga yang tinggal di satu rumah.

Kami sering mengadakan acara makan2 bersama di luar, seperti ini

Kami juga pernah tiba-tiba melakukan photo session di ruang tengah kosan

Kejutan-kejutan ultah pun banyak yang kami lakukan

Makan bareng di lorong kosan, padahal dingin, gelap dan sempit, tetap saja berasa nikmat

Atau bahkan nyari kutu ngepangin temen kosan

See how beautiful it is ?🙂

Comments
  1. nanang says:

    he he he….
    Pasti merasa betah lah orang Yoan gabetah bareng orang tua kali…he he he

  2. mirlan says:

    wuuaa saiaa juga ga mw di kasih predikat anak kosant..
    karna biasanya ank kosant itu jarang masak (ak kan serinf masak),indivudua(kita kan ngga)
    trus tinggal jauh dari kelaurga..
    (kita kan dsni udh kyk keluarga) . . .
    ahahahahah. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s