Bicara Tentang Sahabat

Posted: June 7, 2010 in Life|Love|Souls|Conspiracies
Tags: , , , ,

Menurut kalian, apa sih sahabat itu? Seseorang yang selalu ada di saat senang maupun susah? Seseorang tempat kalian curhat? atau Seseorang yang “tingkatannya” lebih dari teman tapi kurang dari pacar?…dan kapan kalian merasa pantas menyebut seseorang tersebut adalah sahabat kalian?

Bagi gwe sendiri, ya, sahabat seharusnya ada di saat senang maupun susah. Ya, sahabat adalah orang yang bisa gwe percaya sebagai tempat curhat, yang gwe yakini, tidak hanya sebagai pendengar setia, tp bisa memberi solusi. Tapi kalo masalah “tingkatan”, tunggu dulu. Yang jelas, dia memang lebih dari sekedar teman biasa, biasanya ia lebih mengenal kita sehingga kita akan merasa lebih nyaman berbagi cerita kepadanya. Tapi apa memang kurang dari pacar? hmm..tergantung. Tapi bukan itu yang ingin gwe bahas sekarang

Barusan gwe chatting sama temen gwe, sebut saja si mr.cinta-kaltim. Dia bilang :

Temen-temen tu pasti ada. Tapi kan kita ngga bisa ngasih predikat seseorang sebagai sahabat dalam hitungan hari atau bulan

Memang iya?

Mungkin iya. Karena kaya yang tadi gwe bilang, sahabat adalah salah satu orang yang sangat mengenal kita, sehingga tentu butuh waktu lama untuk menjadikan seseorang “sahabat”. Tapi, kalau gwe ingat-ingat lagi, tidak semua sahabat gwe perlu melewati waktu begitu lama.  Paling tidak, mereka-mereka yang gwe percaya sebagai teman curhat.  Mr.cinta-kaltim sendiri terpaksa menarik perkataannya sendiri ke gwe, karena untuk kasus kami ada pengecualian.  Kami hanya sempat bertemu selama 6 hari mulai dari kenalan hingga cukup dekat, selebihnya persahabatan pun terjalin via internet atau pun sms. 6 hari pertemuan, beberapa minggu saling kontak sudah cukup membuat kami saling percaya saling curhat.

Lucunya, ada juga beberapa teman yang menjadi sahabat setelah kami berteman-tidak-terlalu-dekat-hanya-say-hi cukup lama. Misalnya, beberapa teman yang telah sekelas bertahun-tahun, tapi justru baru menjadi sahabat di tahun-tahun akhir mendekati kelulusan. 2x gwe merasakan hal tersebut, sewaktu di SMA dan sekarang saat di kuliah.

Kalo yang dari gwe perhatikan, untuk gwe, teman yang akan gwe percaya sebagai teman cerita adalah mereka yang memiliki kesamaan sifat atau pola pikir dengan gwe. Tidak perlu semua, paling tidak sebagian.  Kalau bisa kesamaan selera. Alasan? saat gwe terlalu kalut untuk menggunakan otak gwe, gwe bisa mengandalkan otak mereka untuk membantu gwe menemukan jalan keluar. Karena mereka punya kesamaan sifat atau sebagian pola pikir, saran-saran yang mereka keluar akan sesuai dengan pola pikir gwe dalam keadaan “sehat”. Jadi gwe pun melakukannya tanpa penyesuaian lagi.

Nah, bagaimana dengan kalian? butuh waktu lama atau tergantung intuisi bahwa orang ini “tepat” sebagai sahabat sehingga tidak butuh waktu lama??

Ah, berbicara tentang pertemanan, gwe pun teringat dengan blog temen gwe, Mikha dan Josef. Mereka pernah menggambarkan siklus berikut pada blog mereka

stranger – friend – best friend – friend – stranger

Yah, siklus yang sangat gamblang. Pengen rasanya menyangkal, tapi toh gwe sudah berkali-kali merasakan hal tersebut. Misalnya, sebut saja Ms.Smart. Persahabatan gwe dulu sangat dekat. Kami selalu membanggakan kepada orang lain jika kami marahan, kami tidak perlu waktu lama untuk baikan kembali, tanpa perlu saling minta maaf, kami akan bermain bersama kembali.  Sekarang? saat kami bertemu kami pun kembali menjadi teman-tidak-terlalu-dekat-hanya-say-hi. We’re stranger for each other. Walaupun siklus, tapi apa benar akan kembali menjadi teman? karena nampaknya susah bagi kami untuk kembali akrab, terlalu beda dunia. Kecuali suatu saat nanti ada keadaan yang bisa menyatukan kami kembali.  Lagi pula, penggambarannya bukan dalam bentuk lingkaran…jangan-jangan memang benar dirancang untuk tidak kembali? wah…memang kita harus menjaga persahabatan, ya gak?

Ingin rasanya bisa seperti mama. Memiliki sahabat-sahabat sejak kuliah yang tetap menjadi teman-teman dekat beliau hingga sekarang. Bahkan saking dekatnya, kami para anak-anak mereka pun menjadi dekat.

Semoga sahabat-sahabat yang gwe miliki sekarang dapat kekal meski terbentang jarak dan waktu. (ko kayak lagunya Stinky ya?😛 )

Comments
  1. nadiafriza says:

    wah gw baru tau ada siklus kayak gitu yo.. berarti friends forever itu mustahil ya?

  2. mikha_v says:

    ya salah satu keunikan psikologis manusia, memang susah dibuatkan rumus empiris nya😀

    Teori-teori di atas, kebanyakan diambil dari pengalaman mayoritas saja, seperti teori “Tapi kan kita ngga bisa ngasih predikat seseorang sebagai sahabat dalam hitungan hari atau bulan” maupun “stranger – friend – best friend – friend – stranger”.

    Secara mayoritas, aku setuju dengan teori itu. Tapi, manusia itu sangat unik, sehingga, tidak bisa “dipukulrata” semuanya akan mutlak terjadi seperti yang dirumuskan di atas. Contohnya ya kamu sendiri, punya beberapa kasus yang pengecualian😀 .

    Ngga perlu jauh-jauh ke psikologi dulu deh. Secara biologis saja, terkadang praktek bisa menyimpang dari teori medis. Secara teori, golongan darah O bisa disumbangkan ke semua golongan darah lain. Tapi secara praktek, ada yang tidak bisa, entah bagaimana malah terjadi penggumpalan. Oleh karena itu, golongan darah paling aman adalah cari yang sama, walaupun secara teori ada yang bisa tidak sama.

    Dan oleh karena itu…menurutku ujung-ujungnya memang mesti direlasikan dengan “Sang Pencipta manusia”. Karena hanya Dia lah yang paham detail manusia yang super-unik ini, baik secara fisik, mental, rohani. Dia juga Sang Mastermind dari pertemuan kita dengan seluruh teman-teman kita.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s