3 Porsi Rokok dan Bir

Posted: December 15, 2010 in Life|Love|Souls|Conspiracies
Tags: , ,

Untuk pertama kalinya gwe menyelesaikan cerpen karangan gwe sendiri. Jangan berharap apa-apa disini, ini benar-benar karangan seorang amatir yang sama sekali tidak mengerti tentang cerpen. Jangan berharap akan cerita yang menyentuh dan mendesak air mata, jangan berharap akan cerita yang mengeluarkan emosi dan amarah, apalagi berharap akan cerita yang akan membuat kalian terpingkal-pingkal. Berharap lah akan cerita yang sangat sederhana…Enjoy!😉

3 Porsi Rokok dan Bir

“Kamu itu manusia yang hebat, Kai!”, seorang sahabat dengan penuh keyakinan mengatakan kalimat itu seraya menatap mataku lurus-lurus.

“Oh ya? HAHAHA!”

Aku hanya tertawa. Alisku naik sebelah. Mataku membalas tatapan sahabatku itu dengan pandangan yang mengatakan, “Dan kamu itu manusia yang aneh bisa berpikiran seperti itu.

Aku ini manusia lemah. Dengan mudahnya hembusan angin ini akan membawaku berputar. Berputar dan terus berputar-putar mengikuti arah angin. Bahkan saat hembusan angin itu semakin jauh mengajakku berputar, aku masih saja terhanyut olehnya. Dan aku semakin tidak menyadari bahaya yang mengancamku di ujung pusaran angin itu.

“Sungguh, Kai. Kamu itu istimewa!” Sahabatku tidak menggubris tatapanku dan masih terus meyakinkanku.

“Aku saja ingin bisa sepertimu,” lanjutnya.

Dan aku pun kembali memberikan tatapan kamu-itu-manusia-aneh-yang-bisa-berpikiran-seperti-itu.

“Serius dulu lah, Sobat. Kamu? Jadi seperti aku? Kamu dengan segala kemampuan hebatmu bermain piano, kemampuan luar biasamu mengatur segala kegiatan padatmu? Mau jadi seperti aku yang bahkan mengatur hidupku saja aku tidak berbakat?Lucu kamu, Bi!”

“Hhh…”, sahabatku Bian hanya mendesah. Kali ini ia memberikan tatapan sedih dan bingung kepadaku.

***

Malam itu aku memutuskan untuk berjalan kaki saja pulang dari rumah Bian. Aku ingin menikmati bintang. Yah, ada hubungan khusus antara aku dan bintang-bintang di atas sana. Aku cukup menatap mereka, tersenyum kepada mereka, dan menyapa,

“Bagaimana kabarmu nun jauh disana, Bintang?”

Tentu mereka tidak akan menjawab. Mereka mungkin hanya akan menjawab dengan terus memancarkan kerlipnya di tengah langit hitam. Lalu aku akan menghitung mereka. Ya, menghitung satu-persatu bintang yang ada di langit malam itu. Entah sejak kapan kebiasaan itu muncul, tapi tiap aku mulai menghitung bintang, semakin banyak jumlah yang kuhitung, semakin aku tidak merasa sendiri. Malam itu hitunganku sampai di angka 23 ketika tiba-tiba, aku merasakan ulu hatiku nyeri. Seseorang telah menabrakku,

“Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak bisa melihat aku sedang berjalan tergesa-gesa? Memangnya kamu sedang apa, heh?!” tanya perempuan ini dengan intonasi suaranya yang tinggi.

“Hey, mbak. Kenapa menyalahkan aku? Kalau kita bertabrakan kan berarti kita sama-sama tidak saling melihat. Kalau mbak tidak meleng juga kita tidak akan bertabrakan, Mbak!” Ucapku defensif. Defensif yang terlihat bodoh memang.

“Kamu ini, bukannya minta maaf malah ngomong yang gak jelas seperti itu!”

“Lah, mbak ini, bukannya minta maaf malah ngomel-ngomel seperti ini!”

“Dasar orang gila!” umpat wanita itu seraya berjalan meninggalkanku.

Sebenarnya aku bisa saja dengan mudahnya meminta maaf kepada wanita tersebut, membuatnya melupakan kekesalannya dan merasa tersanjung, mengetahui namanya, dan akhirnya mengetahui nomor teleponnya. Toh, dia sebenarnya cukup manis. Ah, masa bodoh lah. Moodku sedang kacau. Lebih baik aku duduk-duduk saja dulu di bar dekat apartemenku. Aku butuh rokok dan bir malam ini.

“Hai, selamat datang! Mau pesan apa?” sambut pelayan di seberang bar dengan ramah.

Aku awalnya hanya terdiam menatap makhluk asing yang ada di hadapanku ini. Pelayan baru? Kemana si Carlo?

“Carlo sedang tidak enak badan hari ini. Jadi aku menggantikannya malam ini.”

Kaget. Kok dia bisa menjawab apa yang aku pikirkan?

“Sudah, tidak perlu dipikirkan, aku yakin semua orang berpikiran seperti itu begitu melihatku pertama kali berdiri di tempat Carlo malam ini. Jadi, mau minum apa?”

Ehm, sebenarnya aku belum terlalu memutuskan. Apakah ingin minum yang berat atau hanya sekedar bir. Mungkin untuk permulaan aku ingin beberapa shot dari whiskey.

“Aku sarankan kamu minum bir saja malam ini”

Apa?! Kenapa dia selalu bisa menjawab apa yang ada dipikiranku?

“Sebentar, sebentar, kamu ini paranormal atau apa?Dari tadi kamu seakan berbicara dengan isi kepalaku,” ujarku kaget.

“Haha, aku hanya memperhatikan sekitar, menganalisa tingkah laku orang, dan menebak berdasarkan analisaku itu tadi,” jawabnya enteng.

“Menarik, coba kamu jelaskan apa hasil analisamu kepadaku!”

“Gampang. Kamu masuk dengan muka kesal. Tampaknya moodmu cukup buruk malam ini sehingga memutuskan untuk sedikit minum — mungkin merokok kalau kamu perokok – dan mampirlah kamu ke bar ini. Aku mengenalimu dari beberapa foto keramaian di bar ini yang dipajang Carlo di dinding di belakangku ini dan beberapa kali aku melihatmu memegang botol bir. Aku menyimpulkan, oh, ini salah satu pelanggan Carlo dan dia sering memesan bir.”

“Oke…tidak buruk. Lanjutkan!”

“Lalu aku perhatikan lagi mimik wajahmu. Kamu kesal, tapi ada semburat kecewa di wajahmu. Percaya lah, kawan, orang-orang dengan mimik sepertimu pasti sangat ingin mabuk semabuk-mabuknya.”

“Hahaha! Tepat! Terus?”

“Tapi lalu aku perhatikan pakaianmu. Meskipun sudah kusut, tapi aku yakin tadi pagi pakaian ini masih rapi dan mungkin kamu pakai untuk bekerja. Dan ini hari Selasa, jadi kusimpulkan, kemungkinan kamu harus berangkat pagi-pagi untuk melanjutkan kegiatanmu besok. Dari situlah aku menarik kesimpulan kalau kamu lebih baik minum bir saja. Bagaimana?”

“Hmm…kamu pintar,” aku hanya tersenyum mendengar penjelasan panjang lebarnya itu.

“Hey! Kamu kesini bukannya hanya untuk memuji kepintaranku kan? Jadi bir apa?”

“San Miguel”

Dia pun tersenyum dan meninggalkanku mengambil bir yang kupesan. Aneh, aku belum menegak satu teguk bir dan bahkan rokokku masih tersimpan di dalam saku celanaku, tapi aku merasa sudah lebih baik. Lalu, pelayan baru itu datang kembali dengan membawa dua botol bir di tangannya,

“Silakan”

“Aku hanya memesan satu”

“Oh, iya, yang satu ini buat aku,” ucapnya seraya membuka tutup botol bir tersebut. Lalu ia tarik kursi yang ada di seberang bar dan duduk dihadapanku.

“Jadi, apa yang membawamu datang ke bar ini di tengah hari bolong seperti ini?” tanyanya santai.

“Tengah hari bolong? Ini kan sudah malam!”

“Oh, itu istilahku dengan Carlo. Senin-Rabu malam adalah hari-hari sepi bar ini. Seolah-olah itu adalah hari yang salah bagi orang-orang untuk mampir ke bar ini. Karena itu kami menggunakan istilah itu.”

“Hahaha! Kalian ada-ada saja. Tunggu, memangnya apa hubunganmu dengan Carlo?”

“Sepupu”

“Oh, ok.”

“Jadi?”

“Apa?”

“Pertanyaanku tadi”

“Oh. Yah, kamu sudah tau kan. Aku kesal dan kecewa,” ujarku sambil seraya menyalakan rokokku.

“Kepada?”

“Diriku”

“Kenapa?”

“Kenapa kamu mau tau? Sana kembali bekerja!”

“Lihat sekelilingmu, tidak ada siapa-siapa yang perlu kulayani,” ujarnya acuh.

Dia benar. Hanya ada segelintir orang di Bar itu. Semuanya sudah cukup mabuk untuk meminta pesanan lagi. Beberapa bahkan terlihat sedang asik berbicara dengan gelas minumannya.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Kaisar” jawabku seakan tak peduli. Padahal sebenarnya dia mulai menarik bagiku. Tapi aku putuskan untuk nanti-nanti saja menanyakan namanya. Sedikit jual mahal sekali-sekali.

“Tidak usah sok jual mahal, tanyakan saja siapa namaku!” ujarnya sambil menatapku jenaka.

“Wah, wah, kamu benar-benar bisa menebak isi pikiran orang ya?” tanyaku kaget kembali. Dia hanya tertawa dan mengedikkan bahunya.

“Oke, siapa namamu, gadis?”

“Nararya. Panggil aku Nara. Jadi? Kenapa kamu marah dan kecewa dengan dirimu?”

Aku menatapnya ragu. Apa perlu aku menceritakan masalahku dengan wanita yang baru aku kenal? Tapi bagaimana kalau ia menceritakan ceritaku ini ke Carlo?

“Tenang,” ucapnya santai seraya memeragakan orang memesang reseleting di bibirnya. “Zipped! Jadi apa?”

“Hahaha. Kamu lucu. Kamu berkali-kali bisa menebak jalan pikiranku tapi tetap bertanya permasalahanku apa. Tidak bisakah kamu menebaknya saja?”

“Aku bisa saja menebak, Kai. Tapi ada baiknnya kamu yang mengeluarkan semua uneg-unegmu. Tujuanku bukan untuk ingin tahu kok,” katanya sambil menopang dagu seakan siap mendengarkan ceritaku.

“Baiklah. Aku merasa aku orang rata-rata.”

“Maksud kamu?”

“Aku tidak punya keahlian apa-apa. Semua hal yang aku jalani, tidak pernah berakhir dengan gemilang. Rata-rata. Cukup baik, tapi tidak sangat baik.”

“Misalnya?”

“Hmm…di kantor aku bukan lah pegawai favorit bosku. Yeah, aku memang termasuk dalam tim khusus auditing, tapi tetap, aku merasa aku tidak melakukan suatu hal yang memukau untuk tim itu. Selalu temanku yang ditunjuk untuk memberikan presentasi pada klien atau mungkin ditunjuk untuk diberikan penjelasan pertama oleh klien atau bosku. Aku berasa hanya menjadi kacung saja di tim itu. Mengerjakan hal-hal berat dengan tanggung jawab kecil,” cerocosku begitu saja. Mukaku memerah, tampaknya pengaruh bir sudah mulai bekerja. Dan benar saja, tanpa sadar aku sudah hampir menghabiskan botol pertamaku.

“Hmm…ok, ada contoh lain?” Tanya Nara sabar sambil membukakan botol kedua bir tanpa kuminta. Tapi memang itu lah yang aku inginkan, dia benar-benar bisa membaca pikiranku.

“Apa ya? Ah, misalnya dalam hobiku. Aku suka sekali berolah-raga. Futsal, Basket, Bowling, Tenis, dan macam-macam lagi. Tapi, seperti yang aku bilang tadi. Aku hanya cukup baik saja di semua cabang olah raga itu. Bukan yang terbaik. Selalu ada teman-temanku yang lebih baik dariku,” jelasku lagi.

“Lalu, apa yang membuatmu depresi dengan itu semua?”

“Kamu tidak bisa melihat? Jelas saja itu membuat depresi!” kataku kesal seraya menyalakan batang rokokku yang kedua.

“Aku ini layaknya seorang lelaki yang ingin menjadi yang terbaik. Aku tidak pernah membanggakan kedua orang tuaku. Bagi mereka aku ini hanya membuang-buang waktu saja dengan segala hal yang kukerjakan. Padahal maksudku melakukan itu semua untuk membuktikan pada mereka kalau aku bisa menjadi yang terbaik, paling tidak untuk salah satu kegiatan yang aku jalani,” lanjutku panjang lebar.

“hmm…”

“Hmm? Aku sudah cerita panjang lebar tanggapanmu hanya ‘hmm’?! Ah, sudah lah, kamu sama saja dengan teman-temanku,” aku semakin kesal dengan tanggapan yang ia berikan.

“Kamu mau dengar pendapatku? Kamu itu sombong!” katanya acuh.

“Apa?! Seenaknya saja kamu sebut aku sombong!” Aku benar-benar tidak habis pikir dengan gadis dihadapanku ini. Sudah jelas aku sedang marah, malah semakin dirusak moodku oleh dia. Padahal dia sendiri yang memintaku cerita. Dan dia mengatakan kalau aku sombong dengan acuhnya? Wah, wah, kasian sekali Carlo punya sepupu seperti dia ini.

“Ya, kamu sombong. Kamu punya segitu banyak kemampuan tapi kamu masih menganggap dirimu sebagai orang rata-rata. Coba deh kamu hitung berapa orang yang bisa melakukan hal seperti kamu. Tim khusus auditing? Dan berapa banyak tadi cabang olah raga yang kamu sebutkan? Dan masih bisa mabuk-mabukkan padahal besok pagi sudah harus bekerja? Ah, mana ada orang yang lebih sombong dari kamu itu,” dia menjelaskan dengan nada santai, seolah-olah sedang menceritakan tentang bagaimana dia menggoreng telur,

“Botol ketiga?” lanjutnya masih santai melihat botol birku sudah kosong kembali. Aku mengangguk.

“Bukan itu yang aku maksudkan. Aku sudah bilang tadi, aku melakukan itu untuk paling tidak bisa membanggakan orang tuaku dalam satu kegiatan dalam hidupku! Kenapa aku disebut sombong karena itu?” tanyaku emosional seraya mengambil botol bir ketiga.

“Oke, mungkin kamu tidak bisa membuktikan ke orang-orang terdekatmu kalau kamu bisa menjadi yang terbaik. Tapi bukannya kamu bisa membuktikan kalau kamu orang yang bisa diandalkan dalam berbagai macam bidang?Dan apa orang-orang terdekatmu pernah menuntut kamu untuk menjadi yang terbaik? Aku rasa tidak. Karena mereka sudah bangga dengan dirimu yang sekarang ini. Itu sudah sangat cukup bagi mereka,” katanya seraya tersenyum. Mendengar perkataannya ku hanya terdiam dan menyalakan batang rokokku yang ketiga.

Cukup lama aku melamun karena begitu sadar Nara sudah tidak ada dihadapanku. Aku melihat dia sibuk melayani pelanggan yang baru datang di ujung meja. Aku mendesah, kepalaku pusing. Segala pikiran yang sering muncul di kepalaku berkecamuk dan seraya berduet dengan pengaruh bir. Jam sudah menunjukkan pukul 3.30 pagi, yang berarti dalam 3,5 jam aku sudah harus berada di kantor. Berniat tidak mengganggu Nara, aku pun meninggalkan uang bir dan tip di meja.

Lalu aku pulang. Sambil membawa pulang segala perkataan yang diucapkan Nara padaku.

***

“Dia bilang begitu?Dengan nada santai?Huahahahaha!!” Bian tertawa terpingkal-pingkal saat aku menceritakan pengalamanku semalam dengan Nara keesokan harinya di kantor.

Well, lalu menurutmu bagaimana, Kai? Kamu bisa menerima apa kata-katanya, eh, sahabatku yang paling keras kepala….dan sombong? Hahahah!”

“Hmm…mungkin ada baiknya aku…sedikit mengganti pola berpikirku,” ucapku sok acuh meski sebenarnya aku malu mengakui aku telah menerima segala apa yang diucapkan Nara semalam.

“Hahahaha! Dia pasti gadis hebat bisa membuatmu terdiam dan mengalahkan egomu seperti ini,” ujar Bian dengan gelinya.

Yah, dia memang gadis yang hebat dan pintar. Tunggu, aku belum berterimakasih padanya! Baiklah, malam ini tampaknya aku harus mampir ke Carl’s Bar untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.

***

Aku baru bisa mampir kembali ke bar milik Carlo beberapa hari setelah itu. Pekerjaan di kantor benar-benar menyitaku sehingga aku baru bisa mampir pada hari Jumat. Itu pun sudah tengah malam karena aku terpaksa lembur pada malam itu.

“Heeyy, Kaisar! Lama tidak jumpa!” Sapa Carlo dari balik meja bar.

“Hey, Carlo. Apa kabar? Kudengar dari Nara kamu tidak enak badan hari Selasa kemarin.”

“Ah, hanya masuk angin ringan. Nah, seperti biasa?” Carlo menawarkan pesanan yang biasa aku pesan.

“Ya, satu saja. Aku tidak ingin terlalu mabuk hari ini. Dan kalau bisa, aku ingin bertemu dengan Nara. Ada yang ingin aku obrolkan dengan dia.”

“Ehm…dia sudah kembali ke kotanya, Kai. Dia harus kembali merawat ibu dan adik-adiknya,” jelas Carlo seraya memberikan aku sebotol bir

“Ah, sayang sekali. Ibunya sakit apa, Carl?” tanyaku ingin tau.

“Ibunya menderita Alzheimer sejak dia masih remaja. Ayahnya meninggalkan mereka begitu saja karena sudah tidak tahan lagi. Sekarang dia tinggal berempat dengan ibunya dan kedua adiknya yang masih sekolah. Dia baru saja diberhentikan dari pabrik sepatu tempatnya bekerja yang sedang melakukan pemangkasan tenaga kerja. Karena itu lah dia meminta tolong aku untuk memperkejakan dia kalau-kalau aku membutuhkan tenaganya sambil dia menunggu panggilan kerja di tempat baru. Kasihan, padahal dia begitu pintar dan ingin menjadi pengacara,” jelas Carlo panjang lebar seraya mendesah iba.

Astaga. Aku sudah menceritakan hal bodoh tentang diriku sambil mabuk-mabukkan seolah-olah hanya ada masalahku saja di dunia ini dan seolah-olah masalahku itu lah masalah terberat sejagad raya. Aku malu. Aku yakin umurnya jauh dibawahku, tapi pemikirannya jernih dan dewasa selayaknya orang seumuran denganku.

“Ah, tapi dia meninggalkan sesuatu untuk kamu. Katanya, dia yakin nanti Kaisar akan mencarinya hanya untuk sekedar berterimakasih,” ujar Carlo seraya mencari-cari sesuatu di laci barnya.

Haha, Nara, Nara…bahkan kamu masih sempat-sempatnya membaca pikiranku, batinku.  Lalu Carlo pun memberikan secarik kertas seukuran kartu nama. Tadinya aku berharap itu kartu nama milik Nara sehingga aku bisa menghubunginya. Tapi hanya ada dua kalimat tertulis dalam bahasa inggris di situ,

Have a faith, Kaisar
PS : Smoking kills”

Aku pun tertawa kecil. Ya, aku hanya butuh sebuah keyakinan untuk membuat kehidupanku berjalan dengan baik. Dan, ya, ya, aku harus menghentikan kebiasaan rokokku yang memburuk setiap aku memiliki banyak hal yang dipikirkan.

“Ayo lah, Carlo. Kamu tidak mau memberikan nomor telepon sepupumu padaku?” Ujarku seraya menatap Carlo jenaka, tidak terlalu berharap kalau Carlo akan dengan begitu saja memberikan nomor telepon Nara padaku. Dan jawaban Carlo justru membuatku terkejut,

“Lucu, karena Nara pun berkata aku harus memberikanmu kartu namanya ini karena kamu pasti akan menanyakan nomor teleponnya. Sekedar berterimakasih tidak akan cukup bagimu, katanya. Hahaha!” Carlo pun menyerahkan kartu nama Nara seraya tertawa kepadaku.

Astaga, Nara, segitu hobinya kamu membaca pikiranku, huh?

Comments
  1. no name says:

    bwat mbak/mas yoan :p
    keren deh cerpernnya,,, ga nyangka ya sekarang udah bisa bwat cerpen padahal dulu anti skaleeee bhs indonesia.
    beberapa hal ketebak dicerita itu, bukan alurnya, tapi maksudnya.
    ya bwat beberapa orang yg tau pasti ngerti…🙂
    tp, biarpun bgitu memang pada dasarnya banyak orang di sekitarmu yg bangga dan seneng dengan kreatifitas dan seabrek kegiatanmu kok,, contohnya saya.

    • terima kasih kritik dan komennya..
      iya, lagi belajar bikin cerpen. Gak bisa seenjoy kalo bikin puisi…

      Btw, ini akun siapa yah?ko bisa tau saya gak suka bahasa indonesia dulu?hehehe…

  2. gundala says:

    n i c e . . .🙂

  3. wibi says:

    Just another sad story for me.. and thanx for every word’s you wrote on nice story…🙂 more n more … good luck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s