Singapore National Museum and Kampong Glam

Posted: February 14, 2011 in Lifestyle, Travelling and Culliner
Tags: , , , , ,

Mungkin ini memang turunan dari kakek saya, tapi saya memang mempunyai ketertarikan sendiri dengan Museum.  Jika berjalan-jalan ke daerah tertentu dan bingung bagaimana menghabiskan waktu, saya akan memilih untuk mencari museum yang ada pada kota tersebut.  Hal ini terjadi sewaktu saya ke Singapore baru-baru ini.

Terus terang, saya tidak suka belanja.  Begitu tau kalau 6 jam sisa waktu di Singapore sebelum kami harus ke airport akan dihabiskan oleh rombongan untuk belanja, saya mulai mencari-cari alternativ tempat yang bisa dikunjungi.  Untung saja layanan Blackberry tidak mati, karena itu saya bisa googling untuk mencari tahu apa saja yang bisa dilakukan di Singapore selain belanja.  Yang benar saja, berkali-kali ke Singapore gak mungkin hanya dihabiskan di Orchard Road.  Perhatian saya pun tertuju pada National Museum of Singapore.

National Museum of Singapore

National Museum of Singapore terletak di 93 Stamford Road.  Cara mencapainya pun mudah sekali.  Cukup naik MRT dan turun di stasiun Dhoby Ghaut.  Keluar dari stasiun, kita tinggal berjalan kaki sekitar 5 menit ke arah Singapore Management University (SMU), dan National Museum ada di belakang universitas tersebut.  Selain itu, museum ini juga dapat dicapai dari stasiun MRT Bras Basah (tinggal menyusuri SMU, 5 menit jalan kaki) dan City hall (agak jauh, dilanjutkan sekitar 10 menit jalan kaki), beberapa Bus yang berhenti di YMCA dan Stamford Road, atau, gampangnya, ya Taxi😀

National Museum of Singapore (NMS) sendiri adalah museum tertua di Singapore, tapi merupakan salah satu museum paling interaktif yang pernah saya kunjungi.  Biaya masuknya pun termasuk murah.  Untuk dewasa dikenakan 10 SD, sementara untuk anak-anak, pelajar dan senior dikenakan biaya 5 SD.  NMS terbagi memiliki 2 atraksi utama, yaitu Singapore Living Gallery dan Singapore History Gallery.

Singapore Living Gallery sendiri terdiri dari 4 bagian, salah satunya adalah Film & Wayang, dimana kita bisa melihat sejarah perfilman dan pertunjukan teater/seni panggung Singapore sejak zaman dulu

 

Actors and Actresses in 1960's era

We can hear some Singapore's old popular songs thru the Headphone

Some costumes they used back then for the Chinese opera

Selain itu terdapat juga bagian Food dimana kita juga bisa melihat makanan-makanan khas Singapore. Lucunya, banyak makanan khas singapore yang sama dengan makanan khas Indonesia, seperti Sate, nasi lemak, dan lain-lain.  Yeah, namanya juga masih termasuk satu rumpun, yang dimakan pasti sama-sama saja😉

 

Kinds of cookies cutter

 

We can smell some ingredients thru here

We can smell some ingredients thru here

Selain itu kita juga dapat melihat perkembangan Fashion dan Photography sebagai salah satu bagian dari Singapore Living Gallery.  PAda bagian Fashion, kita dapat melihat beberapa gaya pakaian yang sering digunakan wanita-wanita Singapore mulai dari zaman dulu hingga sekarang.  Selain itu, kita juga bisa melihat sekaligus menyentuh berbagai macam jenis kain yang terdapat pada seksi spesial

 

Many kinds of Garments

Yang unik dari Singapore Living Gallery adalah, pada tiap bagian, terdapat ruangan khusus atau yang biasa mereka sebut special section. Ruangan tersebut adalah bagian terbesar dari tiap-tiap bagian.  Uniknya, pada ruangan tersebut diberikan suara-suara khas sesuai tema dari tiap-tiap bagian.  Misalnya, pada bagian Photography kita bisa mendengar suara “klik” khas kamera, pada bagian Fashion kita bisa mendengar suara mesin jahit, pada bagian Film & Wayang kita bisa mendengar suara alat pemutar film, dan yang paling lucu, pada bagian Food kita bisa mendengar suara keramaian di dapur seperti suara piring, benda-benda yang diletakkan di meja makan, atau suara orang memasak.

Setelah puas mengitari Singapore Living Gallery, kita bisa masuk ke dalam atraksi utama dari museum ini, Singapore History Gallery.  Saat memasuki museum ini, kita akan diberikan headphone dan alat yang akan memberikan penjelasan mengenai isi dari Singapore History Gallery.  Saya jadi ingat sewaktu mengunjungi Museum Insel di Berlin dimana kita juga diberikan alat seperti ini.  Sayang, alat yang diberikan di Singapore terlalu berat, sampai pegal leher saya, apalagi saya juga membawa kamera SLR.

Singapore History Gallery seperti bangunan tersendiri yang ada di dalam museum.  Begitu masuk, kita akan langsung disambut layar raksasa yang memperlihatkan cuplikan-cuplikan sejarah Singapore

History Gallery sendiri pada dasarnya memperkenalkan kita akan Singapore berdasarkan perkembangan sejarahnya.  Kita seperti menyusuri garis waktu tentang kehidupan di Singapore.  Pertama-tama kita dapat melihat prasasti-prasasti seperti batu tulis, Singapore’s Stone dari sekitar abad ke-10, bahkan beberapa peninggalan seperti guci-guci yang tertimbun cukup lama.  Selanjutnya kita dapat melihat awal-awal terbentuknya singapore, saat singapore masih dalam jajahan Inggris, saat Jepang mengambil alih kekuasaan Inggris, hingga bagaimana rakyat singapore menyatakan kemerdekaannya.  Kita juga dapat melihat perkembangan kehidupan singapore pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.  Berikut ada beberapa foto dari apa saja yang dapat kita lihat di History Gallery ini.  Click here for more photos and enjoy it😉

 

Singapore's Stone

Funeral Hearse of Tan Jiak Kim

Setelah menghabiskan sekitar 2-3 jam di NMS, ternyata saya masih memiliki waktu sekitar 3 jam lagi sebelum janjian untuk berangkat ke airport.  Beruntung saya sempat mengambil brosur tujuan wisata yangjuga dilengkapi dengan peta.  Setelah melihat-lihat, memilih-milih, menimbang-nimbang apakah waktunya cukup atau tidak, saya pun memutuskan untuk ke Kampong Glam yang terletak di daerah Bugis.  Menurut yang saya baca, Kampong Glam ini adalah Malay Heritage Centre. Another museum! Jadi lah saya cukup semangat menempuh perjalanan cukup panjang. Toh, waktu yang tersisi lumayan banyak.

Daerah Kampong Glam

Malay Heritage Centre atau Kampong Glam ini terletak di 85 Sultan Gate.  Untuk mencapainya kita harus turun di stasiun MRT Bugis, lalu jalan ke arah Arab Street.  Mudahnya sih, begitu sampai di Arab street, jalan lah ke arah Sultan’s Mosque, dan Kampong Glam berada pada di ujung jalan tersebut.  Malay Heritaga Centre dulunya adalah Istana Sultan yang telah diubah menjadi museum, workshop untuk batik, keramik dan budaya malaysia.

Malay Heritage Centre

Untuk masuk ke dalam museum ini tiketnya cukup murah.  Untuk dewasa cukup membayar 5 SD, sementara saya yang membawa kartu pelajar?? Gratis! Yeeaahh!! Tapi saya gak terlalu merasa untung-untung amat karena sebenernya museumnya termasuk kecil.  Kita hanya bisa melihat sebagian kecil sejarah malaysia yang suka berlayar, saat berjuang merebut kemerdekaan dari Inggris, dan sejarah mengenai daerah Kampong Glam itu sendiri. Justru sejarah mengenai daerah Kampong Glam ini yang paling menarik diikuti.  Sejarah ini juga diceritakan melalu komputer yang tersedia di museum tersebut. Yang paling menarik perhatian saya adalah, adanya kapal ini di halaman Malay Heritage Centre

 

Pinisi Boat

Yap, ada kapal pinisi di situ.  Dengan tulisan “Bugis Prahu” di papan petunjuknya. Hmm, at least mereka mengakui itu kapal milik bangsa bugis, bukan bangsa malay (ooops)😛

So, that’s it! Saya semakin berharap museum-museum di Indonesia dirawat dan semakin dikembangkan seperti museum-museum di luar.  Mereka bisa membuat museum seolah-olah menjadi tujuan wisata yang tidak membosankan, sekaligus sebagai tempat mengenalkan budaya dan sejarah dari bangsa mereka sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s