When your life turns too fast….

Posted: August 14, 2011 in Life|Love|Souls|Conspiracies
Tags:

Hidup pasti berubah.  Cepat atau lambat, dalam keadaan yang lebih baik atau lebih buruk, menjadi yang terduga atau tidak, yang jelas pasti akan berubah.  Dan itu semua perlahan akan merubah orang yang menjalani hidup itu.

Saya yakin, banyak orang yang pernah mengalami perubahan hidup yang begitu cepat.  Biasanya tiba-tiba berubah drastis.  Ntah mendadak kaya, mendadak miskin, mendadak sakit parah, mendadak dapat warisan dari orang yang gak dikenal, mendadak jadi istri orang (eh, yg ini ko macam habis hangover) atau segala dadakan lainnya.  Tapi yang mau saya ceritakan kali ini (setelah 6 bln meninggalkan blog) benar-benar perubahan hidup saya yang bertahap, tapi segalanya sungguh sangat cepat.

Yang penting, heppii….

Tepat setahun yang lalu di tanggal ini, saya baru saja menyelesaikan penelitian saya di Bogasari.  Seharusnya sayamenggunakan waktu-waktu setelah itu untuk rajin berinteraksi dengan pembimbing, mengejar ketertinggalan saya dalam mengerjakan Tugas Akhir sementara sudah banyak teman-teman saya yang maju sidang akhir dan akan wisuda oktober 2010.  Tapi saya justru tidak peduli.  Ntah mengapa saya waktu itu cenderung masa bodoh dengan Tugas Akhir saya. Saya anggap itu sesuatu yang menghalangi saya untuk melakukan apa yang saya mau.  Saya pun kesana-kemari, mencoba ini-itu, leha-leha, main-main, bimbingan pun dilakukan hanya sebulan sekali,dan pada bulan Desember, bab 1-3 gak berkembang sejak pertama kali saya tuliskan di bulan Agustus.  Tapi entah mengapa, saya puas dengan apa yang saya dapatkan pada masa-masa itu. Pengalaman-pengalaman yang nggak akan saya dapatkan kalau saya serius mengerjakan TA, cepat sidang, dan mungkin segera bekerja. I’m so grateful about what i had that time, even though it was one of my darkest time (maaf gak bisa cerita terlalu detil ttg ini).

Memasuki tahun 2011, saya mulai kenyang dengan pengalaman-pengalam bodoh yang saya lakukan bulan-bulan sebelumnya. April di depan mata, Yo. Itu yang selalu kepikiran di otak saya saat itu. Kepikirannya sih, dari januari. Realisasinya? Februari. Waktu deadline? Maret.  Tiba-tiba saja hidup saya berubah dengan sendirinya, dengan kesadaran sendiri (yg harusnya mungkin muncul sejak bulan-bulan sebelumnya).  Siklus hidup berubah. Tidur saat Subuh, Bangun saat Zuhur, Bimbingan saat Ashar, les jerman saat Maghrib, dan mulai bekerja lagi saat Isya.  Sarapan jam 12, makan siang jam 16, makan malam jam 22. Bergeser, berputar, acak-adut. TA pun selesai dalam waktu kurang dari 3 minggu. itu pun saya juga heran, kenapa pembimbing percaya saja saya maju untuk sidang. Dan 9 Maret, saya dapat gelar Sarjana Teknik saya.

“stasiun kerja” yang menemani siklus hidup yang kacau balau

Setelah itu apa? tidak ada euforia setelah lulus. Hidup yang semula acak-adut berantakan tapi sibuk mendadak kosong melompong. Masa bodo lah, batin saya waktu itu.  Istirahat dulu sedikit toh tidak apa-apa.  Papa saya toh juga sudah mengizinkan saya memperpanjang kos selama 3 bulan agar saya bisa tinggal di Bandung dan main-main sejenak.  Lebih dari itu? saya harus kembali ke Jakarta atau Bontang.  Bulan-bulan awal saya masih santai. Siklus hidup masih sama, tapi kegiatan jauh berbeda.  Tidur saat subuh, bangun saat Zuhur, jalan-jalan kesana kemari saat Ashar, Maghrib dan Isya, lalu dilanjutkan bergadang untuk nonton, internetan atau apapun sampai subuh.  Sarapan jam 12, makan siang jam 16, makan malam jam 19, lalu makan lagi jam 22, lalu makan lagi jam 3.  Sampah-sesampahnya-sampah-yang paling sampah. Bahkan saya tinggalkan hobi foto, baca, dan blogging.  Kegiatan paling berharga ya menyelesaikan les jerman saya dan menyempatkan diri bermain Tennis.  Sesampah itu.

Hingga akhirnya, bulan Juni pun tiba.  Les Jerman hampir selesai. Panik. 3 Bulan deadline dari papa sudah hampir habis. Panggilan dari perusahaan bisa dihitung jari.  Saya pun sibuk bergantian mengutuki diri yang bodoh karena tidak kompeten atau mengutuki perusahaan yang bodoh karena hanya melihat dari IPK sebelum memanggil seseorang untuk wawancara.  Bayangan nganggur di Bontang dan tinggal bersama orang tua tanpa ngapa-ngapain bener2 menghantui.  Madesu tingkat tinggi.  Tiap malam, tweet saya penuh kegalauan.  Sahabat-sahabat saya BBM untuk misuh-misuh melampiaskan emosi.  Nelpon pacar sambil cengeng-cengeng gak jelas. Tapi berusaha sok cool n tenang di depan orang tua.  I feel like nothing, incompetent, and disappointing.

Sampai akhirnya, sebuah perusahaan yang sangat saya kenal melalui internship, menelpon saya untuk wawancara.  Kaget. Yang saya lakukan pertama kali saat menutup telepon dari perusahaan tersebut adalah mengerutkan alis lalu tertawa terbahak-bahak.  Lucu. Apa memang saya berjodoh sama perusahaan ini? Saya putuskan untuk jalani saja semua prosesnya.  Dapet syukur, gak dapet toh emang udah terlanjur madesu. Mau apa lagi? Toh ternyata prosesnya tergolong cepat.  Sekitar pertengah Juni saya dipanggil untuk wawancara tahap awal dengan HR. Seminggu kemudian, dikabari untuk mengikuti wawancara user 2 hari berturut-turut. Sehari berikutnya dikabari untuk mengikuti wawancara dengan presdir.  Beberapa hari kemudian disuruh medical check-up. 2 hari setelah itu, hasil medical check-up diumumkan, lolos, dan saya pun diminta untuk mulai kerja senin tanggal 18 juli (diberitahukan hari rabu minggu sebelumnya). Woosshh…woosshh…dalam sebulan sejak kegalauan saya, saya pun berubah menjadi karyawan PT. LG Electronics Indonesia.

ID Card si pegawai

Sudah 20 hari saya bekerja.  5 hari lagi tepat sebulan saya berstatus pegawai.  Hari pertama, sama sekali gak ngapa-ngapain.  Hari kedua, dikenalin sama beberapa orang, lalu gak ngapa-ngapain. Hari ketiga, mulai diajak rapat dan pulang melebihi waktu pulang kerja.  Hari keempat, pulang semakin malam.  Dan sampai saat ini, bisa dihitung jari saya melakukan tenggo (pulang tepat waktu).  Bos saya meminta saya belajar banyak hal, bisa dibilang keseluruhan sistem dalam lingkup kerja saya, bahkan sampai luar lingkup kerja saya.  I feel like i’m being prepared for something quite big.  Wether it’s for company, or maybe for my life.  Whatever it is, as long as i learn something new, i’ll stand and stay.

Tepat setahun yang lalu, pemikiran saya sangat berbeda dengan saat ini.  Tujuan hidup saya berbeda dengan saat ini. Hidup saya jauuh berbeda dengan saat ini.  Mungkin pertanyaan selanjutnya adalah, apakah saya yg sekarang juga berbeda dengan setahun yang lalu?

Comments
  1. nadiafriza says:

    ‘Yang saya lakukan pertama kali saat menutup telepon dari perusahaan tersebut adalah mengerutkan alis lalu tertawa terbahak-bahak. Lucu. Apa memang saya berjodoh sama perusahaan ini?” << percaya ato enggak, perasaan yang sama juga gue rasain ke perusahaan gue yang sekarang.🙂

    learn alot from it, then we dont have to leave it yo. unless the time has come😉

  2. @ nadia : Emangnya perusahaan lo yg sekarang juga kaya udah berjodoh sama lo nad? dari TA ya? atau gimana tuh??

    Yeah, masih muda. Gak usah kejar duit, kejar aja ilmu dulu. Ntar juga ilmu bisa jadi duit. Ya gak?😛

  3. alfiiy says:

    hehehehe……salam kenal.

    saya baca blog ini sambil nunggu flight di LCCT (artinya saat ini ),,awalnya seh sambil bunuh waktu cari rekomendasi ngapain aja…..
    ternyata tulisanmu fresh n bikin remind masa2x kuliah plus bawa2x bontang…remind me my chillhood at badak long…long time ago.
    semoga sukses sama kerjaanmu….n keep writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s