Sewaktu mencoba aplikasi “World”, salah satu aplikasi semacam traveling advisor di Android, iseng-iseng saya mencoba download penjelasan tentang Indonesia. Di penjelasan itu lengkap berbagai macam pilihan tujuan traveling di Indonesia, mulai dari Bali, Jogja, Krakatau, sampai Jakarta.  Berhubung saya sudah sekitar 7 bulan tinggal di Jakarta tapi sama sekali belum merasa meng-eksplor Jakarta, saya pun mencari-cari bagian mana dari Jakarta yang belum pernah saya kunjungi.  Dan mata saya pun melotot begitu membaca sala satu tujuan wisata, “Museum Nasional Indonesia”.  Bukannya apa, saya kaget…..Indonesia punya museum nasional?!?! (eah!)

Mengaku sebagai penggemar museum, saya pun memutuskan untuk mengunjungin museum ini. Dan ternyata, gak cuma saya yang baru tau tentang museum ini.  Tiap saya tanya teman, mereka pasti bingung dimana letaknya.  Belum lagi ada beberapa yang mengira museum nasional ini menjadi satu dengan Monas.  Yah, mau bagaimana lagi, museum tidak pernah terkenal di Indonesia, kan?

Museum Nasional Indonesia

Saya pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Museum Nasional pada hari Sabtu.  Dan ternyataaa…ramai sekali! Kalau tidak salah hitung, ada sekitar 2 rombongan sekola yang datang. Yang bikin seneng, banyak orang tua yang membawa anak-anak mereka mengunjungi museum sebagai acara akhir minggu mereka. Cukup banyak mobil pribadi yang parkir di tempat parkir museum.  Ah, seandainya antusias mengunjungi museum di Indonesia semakin membesar, jadi museum-museum yang lain pun akan semakin banyak pengunjungnya, terawat, dan berkembang.

Museum Nasional Indonesia berlokas di Jalan Merdeka Barat no.12. Untuk mencapai sana sangat lah mudah dengan menggunakan busway. Cukup turun di halte Monas dan Museum Nasional ada di seberang Monas persis.  Atau kalau menggunakan kendaraan pribadi, tinggal menyusuri jalan Thamrin, terus saja di bundaran sapta pesona, Museum Nasional berada di sebelah kiri jalan dan tepat setelah kementrian pertahanan.

Arca Gajah yang merupakan lambang khas dari Museum Nasional Indonesia

Biaya parkir Museum Nasional 4000 dan langsung dibayar di awal.  Kita akan diberikan tempat parkir di basement atau di halaman belakang untuk bus yang bisa menampung sekitar 10 bus.  Dari tempat parkir ke museum tidak ada tangga tembus sehingga kita harus jalan kaki, naik melalui jalan mobil turun ke basement. Biaya masuk Museum terbagi menjadi perorangan (dewasa Rp 5000, anak-anak Rp 2000), rombongan untuk minimum 20 orang (dewasa Rp 3000, pelajar TK-SMA Rp 1000), dan wisatawan asing dengan biaray Rp 10.000. Sangat disayangkan tidak ada brochure atau pun flyer sebagai panduan yang diberikan di pintu masuk untuk pengunjung.  Padahal area museum termasuk besar.

Coba taruhan, dari mereka mana yang bakal terus mengingat apa yang mereka catat?😛

Gedung museum terbagi menjadi dua bagian, Gedung Gajah (old wing) dan Gedung Arca (new wing).  Agak lucu juga sistem penamaanya, karena justru di Gedung Gajah lah banyak ditemukan arca-arca.  Di Gedung gajah, koleksi-koleksi museum dibagi dan disusun berdasarkan beberapa kategori :

  • Stone culture collection. Kabarnya, Museum Nasional indonesia memiliki koleksi arca peninggalan Hindu-Buddha terlengkap di Indonesia.  Berasal dari berbagai macam daerah seperti jawa, bali, sumatera dan kalimantan, memang terlihat sekali banyaknya koleksi arca-arca yang dimiliki. Dan saat awal masuk, saya pun disambut oleh archa Ganeca yang membuat saya melonjak girang hanya gara-gara teringat almamater😛
  • Memasuki ruangan yang ada di belakang, kita bakal disuguhi koleksi-koleksi dari Ceramic collection, Ethnography collection, dan Prehistory Collection. Dari namanya aja udah kelihatan ya, kalau dibagian ini kita bakal disugui koleksi-koleksi keramik dari zaman beheula (ada koleksi piring antik yang bikin saya teringat sama koleksi mama saya😀 ), lalu ada juga koleksi barang-barang keseharian yang dipakai di zaman dulu dari seluruh wilayah indonesia.  Di sini, barang koleksi diatur berdasarkan wilayah, mulai dari nias & batak, badui di jawa, bali, dan dayak di kalimantan.
  • Di lantai 2, terdapat 2 ruangan yang bernama Treasure Rooms.  Ruangan ini juga terbagi menjadi dua, secara archaelogical dan ethnology.  Di ruangan ini sebenarnya dilarang mengambil gambar.  Tapi dasar bandel, teman saya iseng mengambil gambar di sini…hahaha! Banyak peninggalan emas dan harta benda dari kerjaan terdahulu seperti Mataram. Sayangnya, dibagian Ethnology, ruangan agak bau pengap.  Dan saya yang kebetulan sedang flu langsung merasa sesak dan buru-buru keluar ruangan tanpa melihat-lihat lagi.

Taman tengah Gedung Gajah yang dipenuhi berbagai macam arca

Memasuki Gedung Arca, suasana agak berubah mengingat ini merupakan gedung baru.  Gedung pun dibuat bertingkat hingga lantai 4 untuk memerkan koleksinya.  Di lantai 1, kita dapat mempelajari mengenai Man & Environment.  Mulai dari article pembentukan pulau-pulau Indonesia hingga sejarah perkembangan manusia lengkap dengan beberapa replika ataupun rangka temuan arkeolog (disini saya mendengar “nama lama”, si Mr. Eugene Dubois, si penemu rangka-rangka homo sapiens. “Nostalgia” zaman SD yang unik ya😛 ).  Sementara di lantai 2, adalah bagian Knowledge, Technology, & Economy.  Mulai dari batu-batu bertulis tentang perkembangan bahasa, hingga alat-alat perekenomian yg dipakai sejak zaman dahulu. Ada juga koleksi berbagai macam senjata, meriam dan pistol dari zaman Belanda.  Sedangkan di lantai 3 adalah bagian Social Organization  & Settlement Patterns.  Di lantai 4 adalah tempat penyimpanan koleksi Treasures & Ceramics.

Lantai 2 Gedung Arca yang memamerkan prasasti-prasasti batu tulis

Gedung Gajah dan Gedung Arca dihubungkan oleh jembatan yang menggunakan dinding berkaca.  Melalui jembatan ini kita juga bisa melihat pemetaan bahasa dan suku bangsa di Indonesia.  Wuiihh,,canggih juga ya ada orang yang rajin memetakan ribuan bahasa di Indonesia.  Jembatan ini juga kabarnya sering dipakai untuk pameran-pameran.

Museum ini, biarpun termasuk museum terbesar di Indonesia, bisa dibilang tidak terawat dengan layak.  Bagian pameran dibiarkan gelap dan berdebu.  Gak ada satupun ruangan yang dibuat nyaman untuk benar-benar memperhatikan barang koleksi.  Padahal, biasanya yang namanya Museum Nasional itu bisa dibilang museum utama dari satu negara.  Sayang banget, padahal museum ini punya hingga 140ribuan barang koleksi.  Yaa..kalau panutannya aja begini, gimana museum-museum lainnya ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s