Cambodia, here we come!

Posted: April 2, 2012 in Lifestyle, Travelling and Culliner
Tags: , , , , , , ,

Royal Palace, Phnom Penh

Kamboja? Mengapa kamboja? mungkin itu yang banyak dipertanyakan orang begitu saya memutuskan Kamboja sebagai tujuan berlibur mengisi libur panjang di bulan Maret kemarin.  Keinginan untuk pergi ke kamboja sebenarnya bermula saat saya membaca buku Life Traveler by Windy Ariestanty yang menjelaskan bagaimana perjalanan dia keliling Indochina.  Begitu selesai membaca bukunya, saya jadi mikir, lah, kenapa pusing-pusing mikirin tempat jauh-jauh dengan biaya yang seabrek, kalau asia tenggara sendiri aja belum pernah terjamah semuanya.  Jadilah pilihan jatuh ke Vietnam atau Kamboja. Alasan utama? biar lucu aja gituh, eksotis-eksotis gimanaaa gituh…(heeaa)

Sebenarnya waktu saya dan Tati (korban impulsif traveling kali ini) sedang sibuk-sibuknya mencari tiket, pesawat menuju Vietnam banyak yang sedang promo.  Tapi saya termasuk agak picky kalau udah masalah tujuan.  Dengan waktu liburan yang terbatas (waktu itu sebisa mungkin gak boros-boros sama cuti) dan duit yang juga agak terbatas, saya gak mau merasa liburan jadi terkesan dipaksakan dengan hasil yang kurang memuaskan.  Setelah search sana-sini, buka trip advisor & lonely planet, ngitung-ngitung bujet dan keterbatasan waktu untuk buat itinerary yang pas, maka diputuskan lah Kamboja! Nah, bagi yang nanyak, ada apa aja sih di kamboja?? Bukannya disana bahaya yak kondisinya? Mungkin, akan sedikit saya ingatkan, tau Angkor Wat? Kompleks candi yang dijadikan tempat syuting Tomb Raider? Itu ya terletak di Kamboja, tepatnya di kota Siem Reap looh…Kondisi di sana aman atau nggak, bakal saya ceritain di post-post berikutnya yaahh…:)

Saya dan Tati memanfaatkan long weekend saat libur Nyepi. Kami pun memutuskan berangkat pada tanggal 21 Maret, malam harinya.  Dimana kami cuti sehari pada tanggal 22 Maret.  Jadi total kami punya 4 hari full perjalanan.  Dan dikarenakan tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta – Kamboja, pilihannya adalah transit lewat Singapur atau Malaysia. Dengan mempertimbangkan waktu, akhirnya beginilah itinerary yang dipilih :

    1. Jakarta – Kuala Lumpur : 20.35 WIB, 21 Maret 2012
    2. Kuala – Lumpur – Phnom Penh : 07.00 (waktu kuala lumpur = WITA), 22 Maret 2012
    3. Phnom Penh – Siem Reap (by bus) : 07.15 (waktu Phnom Penh = WIB), 23 Maret 2012
    4. Siem Reap – Kuala Lumpur : 08.35 (waktu siem reap = WIB), 25 Maret 2012
    5. Kuala Lumpur – Jakarta : 17.30 (waktu kuala lumpur), 25 Maret 2012

Jadi total ada 4 hari 3 malam, 1 hari 1 malam di Phnom Penh dan 3 hari 2 malam di Siem Reap🙂

Yang cukup seru adalah waktu berangkatnya. Karena berangkatnya malam jadi  lah terpaksa menginap di airport Kuala Lumpur untuk menunggu pesawat ke Phnom Penh.  Dengan sok yakinnya saya berasumsi kalau kehidupan malam di Airport Kuala Lumpur kurang lebih akan sama dengan Changi di Singapur. 24 Jam non-stop. Bayangan saya, palingan bisa lah jalan dari LCCT ke KLIA untuk mengisi waktu sambil duduk-duduk di kafe.  Dengan PDnya, berangkat lah saya dan Tati dengan bis ke KLIA jam 11 malam.  Melewati sirkuit sepang dan jalan tol yang tidak ada apa-apa, kami pun mulai merasa agak ragu.  Jalanan benar-benar sepi.  Dan benar saja, begitu sampai di KLIA, yang kami lihat hanyalah orang-orang yang mengantri dan kondisi airport KLIA begitu lengang dan mulai gelap.  Saat kami tanya, apakah bis ini akan kembali ke LCCT, supir pun berkata kalau bis ini akan ke central dan baru ada bis ke LCCT besok pagi pukul 5.30. Jiah! Nekat, kami pun tetap turun ke KLIA, dan berharap ada cara untuk bisa ke LCCT malam itu juga.

KLIA di waktu malam benar-benar kosong.  Semua kafe tutup, hanya ada satu toko semacam convenience store yang buka.  Aneh, padahal masih banyak penerbangan yang akan tiba pada malam/dini hari.  Memang sih, tampaknya tidak ada penerbangan keluar.  Terlihat bingung, kami pun didatangi petugas airport.  Penjelasan sama pun kembali dilontarkan dia, kalau bis mengarah ke LCCT sudah tidak ada lagi jam segini (waktu itu sudah setengah 12 malam).  Akhirnya dia pun menyarankan untuk naik taksi airport dan mengantarkan kami kembali ke LCCT.  Setelah membeli roti dan susu sebagai bekal cemilan, kami pun terpaksa merogoh 60 MYR (180,000 IDR) untuk biaya taksi ke LCCT. Damn! =))

Simpang siur dihadapan penumpang yang "terdampar"

Lalu, dari jam 1 sampai jam 7 di LCCT ngapain coba?? Berhubung semuuuaa toko dan bahkan airport tutup, terpaksa kami bergabung dengan ratusan penumpang terdampar di selasar-selasar dan teras airport.  Benar-benar “ngegembel” dalam artian sepenuhnya.  Jadilah kami duduk di selasar, di depan kios Body Shop berdampingan dengan pasangan bule yang juga sama-sama udah gak jelas bentuknya, si istri tidur beralaskan selendang, di suami bermain ipod sambil jaga barang.  Agak-agak shock sebenarnya, masak kita akan terus berada dalam keadaan mengenaskan begitu hingga jam 5? Kalau melihat jadwal penerbangan, harusnya pintu airport kembali dibuka pada pukul 2, karena ada penerbangan pukul 3 lebih.  Untung ada wi-fi umum, jadilah saya bisa mengisi waktu dengan bbm-an sambil menunggu pintu dibuka. Kalau seandainya tidak ada wi-fi gratisan di airport LCCT, ntah itu bagaimana kami mengisi waktu.  Paling tidak, bisa mengirit biaya untuk saling bertukar kabar dengan keluarga & pacar di Indonesia

Sesuai dugaan, pintu airport dibuka sekitar jam setengah 2.  Kami pun segera masuk dan mencoba mencari tempat yang enak untuk duduk atau tidur sekenanya. Jadilah tema “ngegembel” berubah menjadi “ngedeprok”😛

Tati yang sudah mendeprok setelah berjam-jam menggembel

Setelah menyempatkan diri makan di restoran cepat saji Malaysia bernama Marrybrown, lalu bolak-balik ke kamar kecil dengan agak panik karena tidak bisa BAB tapi takut kalau-kalau baru berasa di pesawat, ubah2 posisi duduk, punggung & bahu pegal karena bawa-bawa tas ransel dan tas kamera yang lumayan berat, akhirnya Air Asia AK-1472 yang membawa kami ke Phnom Penh pun terbang tepat waktu, mengantarkan kami yang sudah ntah bagaimana wujudnya namun semakin excited.

Cambodia, here we come!

Notes for the one who should spend a nite in LCCT :

Meskipun LCCT ataupun KLIA (dua airport utama di Kuala Lumpur) tidak sepenunya aktif 24 jam, tapi ternyata banyak juga traveler yang sengaja menggembel nunggu jadwal penerbangan di sana.  Padahal sebenarnya banyak restoran cepat saji yang tersedia, tapi memang sayang sekali, restoran-restoran itu juga gak sepenuhnya buka 24 Jam.  Berikut tips-tips yang mungkin bisa dipakai kalau harus bermalam di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Kuala Lumpur :

  1. Segera cari tempat yang enak buat selonjoran di selasar/teras airport. Gak perlu malu, toh semua orang begitu.  Cari tempat yang ada senderannya, enak buat naro troli, atau paling nggak bisa dipakai buat tidur-tiduran
  2. Cek penerbangan terpagi yang ada. Waktu kasus saya, penerbangan terpagi ada sekitar pukul 4 kurang.  Karena biasanya tempat check-in buka 2 jam sebelum keberangkatan, kita bisa memperkirakan pukul berapa pintu utama airport dibuka untuk umum.  Terus kalau udah dibuka gimana? ya pindah tidur-tiduran di dalam! lebih dingin dan kursi yang bisa dipakai duduk/tidur juga banyak..hehehe!
  3. Restoran cepat saji seperti Marrybrown atau McD tidak buka 24 jam.  Begitu juga dengan cafe seperti Starbuck dan Coffee Bean.  Jadi untuk berjaga-jaga, beli roti atau air mineral dari toko yang buka sampai tengah malam.
  4. LCCT sangat berbeda dengan Changi! Jangan membayangkan kita bisa tidur-tiduran dengan nyaman atau mudah mencari makan.  Yeah, namanya juga Low Cost Carrier Terminal, KLIA saja gak ada apa-apa, aplg LCCT. Jadi, bagi yang gak kuat sama angin malam, mending bawa senjata jaket/kain tipis deh.
  5. LCCT punya free wi-fi yang open untuk semua pengunjung.Nama wi-finya FREE_WIFI@KLIA. Bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang atau sekedar mengirimkan kabar ke keluarga di rumah.  Tapi wi-fi ini agak ribet, karena begitu tersambung, kita harus mengaktifkan via browser dahulu. Jaringannya juga sering mati-hidup mengingat pastinya ada ratusan atau bahkan ribuan pengguna wi-fi ini.
  6. Gak bisa tidur-tiduran disembarang tempat atau takut badan malah jadi drop sebelum liburan dimulai? Di sekitar LCCT kalau nggak salah ada beberapa hotel transit, salah satunya Tube Hotel.  Kemarin saya nggak sempet ngecekin tarifnya.  Tapi bisa lah, cek-cek sama mbah Google😛

Nah, kira-kira begitu lah gambarannya. Happy ngegembel di negeri jiran!😀

Comments
  1. Anggita Leviastuti says:

    HAHAHA!! Mulai dari penasaran nunggu Yoan ngepost, baca dgn seksama, ketawa, menerawang, terdiam, berpikir & panik!! Wakakaka. Tx utk tips nya Yoan & Tati.. Uuu kangen pergi brg2 lagi.. Next destination, maybe??😉 :*

  2. bwahahhahaha:)) mantap banget ternyata perjalanan kemaren ya Yo! n itu juga baru awal..hihihi..jadi penasaran post berikutnya😀 next destination ntar ikutan yaa hohoho🙂

  3. bwahahahhaa :)) mantap ternyata perjalanan kalian ya Yo!😀 and ini baru awal perjalanan..jd penasaran post berikutnya nih..hehhee:)
    next destination ikutan yaaaa :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s