Baru pertama kali dalam sejarah per-traveling-an saya, saya benar-benar tepar dan menyerahkan diri ke kasur untuk tidur siang.

Saya dan Tati mendarat di Phnom Penh sekitar pukul setengah 10 waktu setempat. Bagian kedatangan airport Phnom Pehn sama sekali gak ada basa-basinya.  Dari turun pesawat, imigrasi, pengambilan bagasi, terus udah gitu aja keluar gedung.  Di luar kita langsung disambut segerombolan supir Tuktuk yang menawarkan pengantaran ke tempat tujuan.  Rata-rata semua supir tuktuk disitu menawarkan 7 USD untuk pengantaran ke tujuan mana pun.  FYI, tuktuk itu semacam becak yang ditarik motor dan bisa muat untuk 4 orang.  Untuk  USD ber-4 sih murah, tapi sayangnya waktu itu kami cuma ber-2.  Sudah mencoba berbagai macam cara untuk menawar, ternyata memang tarif tuktuk airport segitu.  Jadi lah kami minta diantarkan ke hotel kami di Phnom Penh : Silver River.

Kota Phnom Penh (selanjutnya saya singkat PNH saja ya) sekilas pandang meninggalkan kesan : gersang, berderetan pertokoan, dan tidak ada gedung pencakar langit sama sekali.  Layaknya kota yang baru tumbuh. Rasanya seperti ke daerah Jawa Tengah atau Timur di Indonesia.  Sebelum berangkat tadi, supir Tuktuk kami di PNH, Nora (dia lelaki loh! Namanya manis yahh), menawarkan untuk mengantarkan berkeliling-keling PNH dengan bayaran 20 USD berdua seharian dengan tujuan : Tuol Sleng Museum, Royal Palace, National Museum, dan tempat makan siang, dan hotel. Jadilah kami memutuskan untuk mampir ke Tuol Sleng Genocide museum terlebih dahulu sebelum mampir ke hotel.

Pelataran Tuol Sleng. Masih terdapat alat penyikasaan berupa tiang gantung di halaman bekas sekolah ini

Tuol Sleng Genocide Museum dulunya adalah sekolah yang digunakan sebagai penjara S-21 tempat penyiksaan oleh Pol Pot.  Disini kita bisa melihat kamar-kamar penyiksaan yang dulu digunakan untuk penyiksaan, ruangan yang diberi sekat-sekat sebagai bilik penjara, bahkan foto-foto korban penyiksaan lengkap dengan alat-alat penyiksaannya dan tumpukan tengkorak dari korban-korban pemberontakan dulu.

Bekas ruang penyiksaan yang diubah menjadi galeri untuk memperlihatkan kondisi zaman penyiksaan polpot

Jujur, selama berkeliling kompleks sekolah ini, dada saya sesak.  Bukan sedih atau bagaimana, tapi lebih ke perasaan udara disana pengap dan gak nyaman.  Apalagi tiap memasuki ruangan-ruangan yang dibiarkan seperti waktu pertama kali penjara tersebut direbut kembali oleh pemerintah.  Bahkan ada ruangan yang masih disimpan tempat tidur dimana di atasnya ditemukan mayat korban penyiksaan. Uuuhh…udaranya benar-benar bikin jengah dan sesak!

Ruang kelas yang zaman dulu digunakan sebagai penjara. Masih terdapat tempat tidur tempat ditemukannya jenazah korban penyiksaan seperti yang terlihat pada foto di dinding

Setelah dari Tuol Sleng Genocide Museum, kami memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk bebersih. Mengingat bisa dibilang malamnya menggembel, belum mandi sejak kemarin paginya, ditambah udara PNH yang sangat panas, kami pun kembali ke hotel untuk sekedar mandi dan bebersih. Dan ternyata kami tidak salah pilih hotel! Hotel yang kami tempati bernama Silver River dan terletak di  #37, Street# 172, Sangkat Chey Chumneas, Khan Daun Penh(Phsar Kandal).  Cukup dekat dengan pusat kegiatan seperti royal palace, nasional museum, dan dikeliling oleh banyak kafe-kafe.  Sebenarnya harga yang perlu kami bayar termasuk mahal untuk perjalanan berbujet minim, yaitu $35/night. Tapi begitu kami memasuki kamarnya, wah, bersih dan sangat nyaman sekali.  Sesuatu yang nantinya benar-benar tidak kami sesali.  Kalau mau melihat-lihat bagaimana kamarnya, silakan mampir ke websitenya di http://www.silverriverhotel.com🙂

Setelah selesai bersih-bersih, kami pun mengacuhkan godaan kasur yang terlihat nyaman dan segera melanjutkan perjalanan.  Kami memutuskan untuk makan siang sambil menunggu nasional museum dan royal palace buka.  Kami meminta Nora untuk mengantarkan kami ke restauran khas khmer yang terkenal di kalangan turis dengan harga yang sangat terjangkau.  Nora pun segera memacu tuktuknya mengarah ke sungai Mekong.  Dia pun memarkir tuktuknya tepat di sebuah kafe kecil namun terlihat nyaman bernama Khemer Saravan.  Seluruh dinding Khmer Saravan ditempeli kertas-kertas testimonial turis dari berbagai macam negara.  Kami pun memutuskan untuk mencoba makan di sana dan saya pun memesan makanan khas khmer bernama Amok.  Amok ini seperti kari dengan rasa santan yang cukup kuat dan kita bisa memilih daging campurannya, apakah ikan, sapi, ayam atau babi.  Saya memilih chicken amok, dan dari tulisan testimonial di dinding, tampaknya saya tidak salah pilih. Beginilah suasana di Khmer Saravan :

Khmer Saravan, great place for eat!

dan beginilah bentuk dari Chicken Amok yang saya pesan.

Chicken Amok, the best Khmer Food! :9

Rasanya? sedaaapp!! gurih santannya tidak membuat eneg tapi justru membuat semakin ketagihan.  Saya pun menuangkannya ke atas nasi dan ntah bagaimana perpaduan gurih bumbu amok dengan manisnya nasi membuat saya melicinkan piring di hadapan saya waktu itu…ehehehe!

Selesai mengisi perut, kami pun melanjutkan ke nasional museum karena royal palace belum buka menurut jadwalnya. Ternyata nasional museum Kamboja tidak sebagus nasional museum di Indonesia.  Isinya sama persis dengan gedung gajah di nasional museum Indonesia, penuh dengan arca2. Selain itu? tidak ada sama sekali euy! Rasanya cukup sayang juga sudah merogoh kantong $3 untuk masuk  gedung yang hanya memajang arca-arca yang diambil dari reruntuhan Angkor Wat. Apalagi untuk mengambil foto dilarang dan hanya diperbolehkan memfoto taman ditengah museum, itu pun diharuskan membayar sekitar $1,5 lagi. Wuiiihh…ogaahh! tapi untungnya, saya pun berhasil secara diam-diam mengambil gambar di taman tengah nasional museum kamboja ini..fufufuufu😀

Taman di tengah Museum Nasional Phnom Penh

Karena tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilihat, kami pun memutuskan ke royal palace yang letaknya bersebelahan dengan nasional museum.  Cuaca yang panas membuat kami cukup manja untuk tidak berjalan kaki dan meminta Nora mengantarkan kami ke royal palace. Ada untungnya juga, karena ternyata royal palace masih baru buka 10 menit lagi dan Nora pun mengantarkan kami jalan-jalan di sekitar royal palace. Kami diajak melihat Casino yang terdapat di Nagaworld, satu-satunya bangunan megah yang saya lihat di Phnom Penh sejak turun dari pesawat.  Jalanan yang kami lewati pun termasuk yang terbesar dari yang sudah kami telusuri. Akhirnya saya baru merasakan berada di Ibu Kota suatu negara saat melewati jalan yang dilalui  Nora tersebut.  Setelah berkeliling-keliling baru lah kami turun di gerbang Royal Palace.

Untuk masuk ke royal palace, kami harus membayar $6.5/person.  Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Royal Palace pukul 1.30 di siang hari karena panasnya ampun-ampuuunaaann! Saya dan Tati pun jalan mepet-mepet ke pinggir agar terkena bayangan pohon, yang sebenarnya tindakan yang percuma. Di Royal palace ini sebenarnya banyak terdapat bangunan-bangunan megah berarsitektur khas kamboja, tapi yang benar-benar bisa kami kunjungi hanyalah bangunan utama Royal Palace itu sendiri dan Silver Pagoda.  Royal Palace sendiri merupakan kompleks kerajaan yang sampai sekarang masih sering dipakai untuk menyambut tamu negara ataupun rapat kenegaraan.  Tapi, rasanya, harga $6.5/person itu agak terlalu berlebihan.  Apalagi kita tidak diperbolehkan foto-foto di dalam tiap bangunan yang ada di sana.

Miniatur Angkor Wat di Royal Palace

Selesai dari Royal Palace, rasanya sudah tidak ada yang wajib dikunjungi lagi.  Saya dan Tati pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan berencana untuk isitirahat sebentar.  Ya, kami merencanakan untuk tidur siang dulu membalas dendam karena perjalanan yang melelahkan malam sebelumnya.  Rencananya, malam itu, setelah beristirahat, kami akan berjalan-jalan di sekitar hotel untuk mencicipi makanan di kafe-kafe di dekat situ. Setelah mandi (lagi) kami pun berbaring-baring untuk melepas lelah.  Tempat tidur yang empuk dan dinginnya AC semakin membuat kami nyaman…sangat nyaman hingga kami tidur selama 4 jam! Bangun-bangun sudah jam 9 malam dan rasanya agak malas harus keluar-keluar lagi.  Sehingga kami pun akhirnya hanya memesan makanan Room Service dan melanjutkan leha-leha di kamar.  Gak nyesel deh, bayar kamar agak mahal, toh ternyata kami pakai dengan sangat maksimal. Hahahah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s