Release your mind, fullfil your appetite at Angkor Wat’s Sunset & Samara Dance

Posted: September 23, 2012 in Lifestyle, Travelling and Culliner
Tags: , , , , , , , , , , ,

Setelah 7 jam menahan pegal, kaki ketekuk, sampai salah tingkah saking bingungnya, akhirnya sampai juga saya dan Tati di Siam Reap, kota dimana Angkor Wat terletak. Jujur saja, kami sempat heran karena bis tiba-tiba berhenti di suatu tempat antah berantah, yang tampaknya merupakan stasiun atau tempat pemberhentian bis tersebut. Sama sekali tidak ada apa-apa disekitar tempat pemberhentian itu. Gersang, bahkan tidak ada bangunan sama sekali. Yang ada hanyalah puluhan supir tuktuk yang langsung mengerubungi penumpang bis untuk menawarkan jasanya mengantarkan ke pusat kota. Saya dan tati sempat panik, karena ternyata tempat kami turun jauh dari kehidupan. Beberapa penumpang bis ternyata sudah memesan tuktuk untuk menjemput mereka. Baru lah saya sadar, mengapa begitu banyak hotel di Siam Reap yang menawarkan jasa antar jemput pelanggan.

Untunglah banyak supir-supir tuktuk yang memang standby dan belum di booking di tempat pemberhentian bus tadi (saya tetap tidak menganggap itu stasiun, karena memang sama sekali tidak layak disebut sebuah stasiun). Mata saya tertuju pada seorang pria, dengan paras khas khmer. Senyumnya terlihat ramah dan cara bicaranya lucu dan menyenangkan. Dia meyakinkan saya dan Tati bahwa dia supir tuktuk yang terdaftar dan punya rompi khusus yang menandakan dia bukan supir tuktuk asal-asalan yang sering mangkal di pinggir jalan. Setelah nego-nego, maka kami pun memutuskan untuk menggunakan jasa tuktuk darinya selama kami di Siam Reap. Nama supir tuktuk tersebut Yoyo, dan dia ataupun kami mungkin tidak menyadari seberapa bersyukurnya saya dan Tati mendapatkan supir tuktuk sebaik dia selama di Siam Reap.

Saat kami tiba di Siam Reap, hari sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami pun memutuskan untuk check-in di Hotel terlebih dahulu untuk sekedar meletakkan tas dan istirahat sejenak. Hotel yang kami pilih untuk tinggal di Siam Reap adalah Golden Temple Villa. Kami harus mengeluarkan dana sebesar $20 semalam tanpa mendapatkan sarapan. Untuk sarapan, kita harus menambahkan $5 lagi tiap kamarnya. Saat datang, kami mendapatkan welcome drink berupa Lemon Tea. Lemon Tea tersebut disajikan dingin dengan gelas seng yang diukir seperti ukiran candi. Somehow, rasanya segeeer banget! Agar tidak ribet, saya dan tati pun makan di café yang terdapat di Hotel. Karena ketagihan dengan rasa Amok yang kami makan di PNH, kami pun memesan lagi Amok Set. Tapi sayang, bentuk dan rasanya jauuuh banget bedanya sama yang kami makan di PNH. Huhuhu…

Amok yang disajikan di Golden Temple Villa. Rasanya tidak seenak yang disajikan di Khmer Saravan, Phnom Penh😦

Ice Lemon Tea ini bener-bener berasa segeeer banget disantap setelah perjalanan jauh dan hawa panas yang menyengat waktu itu

Untuk bule, mungkin mereka akan menganggap hotel ini sangat eksotis. Desainnya dibuat tropis dengan beberapa sentuhan khmer. Tempat tidurnya bahkan ada kelambu! Jujur sih, saya dan Tati lebih prefer dengan konsep modern minimalis Silver River hotel sewaktu di PNH. Tapi ya sudah lah, toh hotel hanya sebagai tempat tidur dan mandi doang😀

Suasana kafe di Golden Temple Villa

Sekitar pukul 4, kami pun bergerak menuju Angkor Wat. Atas saran Yoyo, cara yang paling pas untuk berkunjung ke Angkor Wat adalah membeli tiket pada sore hari, masuk untuk menikmati sunset, lalu karena tiket pada sore hari dapat digunakan lagi keesokan harinya, maka kita tidak perlu lagi membeli tiket saat ingin menyaksikan sunrise di Angkor Wat. Bahkan setelah menikmati sunrise, kita bisa langsung mengeksplore kompleks Angkor Wat sebelum matahari sudah mulai panas. Ini merupakan cara yang lebih praktis daripada kita meemilih untuk menikmati sunrise terlebih dahulu, karena biasanya, turis jadi bolak-balik keluar-masuk Angkor Wat saat mau menyaksikan Sunset. Tidak mungkin kita dari subuh hingga petang terus-terusan di Kompleks Angkor Wat kan?? Selain mungkin kita punya tujuan lain, panaaass boooo setelah di atas jam 12! Kecuali, ya kalian adalah arkeolog yang bener-bener hobi ngecekin reruntuhan candi secara detil😛

Pose pertama di depan angkor wat sembari menunggu Sunset😀

Tiket masuk ke Angkor Wat yang one day pass seharga $20. Untuk berjalan-jalan di kompleks Angkor Wat, kita memang membutuhkan kendaraan. Yoyo pun segera memacu tuktuknya ke Candi utama Angkor Wat. Disebut candi juga mungkin kurang tepat yah, karena dulu katanya Angkor Wat merupakan tempat kediaman raja. Saat kami sampai di sana, Angkor Wat sudah rama dipenuhi orang-orang yang ingin menikmati sunset. Karena saat itu masih pukul 5 kurang, saya dan Tati pun memutuskan untuk sedikit mengintip ke dalam candi Angkor Wat. Dan kami pun hannya bisa terperangah. Kompleks istana Angkor Wat sangat teramat luas. Dikeliling oleh danau, kami harus menyusuri jalan setapak yang disusun dari batu-batu besar untuk masuk melalui gerbang. Setelah gerbang yang sangat lebar, ternyata bangunan utamanya masih jauuuh banget. Ada pemisah pelataran yang sangat luas antara gerbang dengan bangunan utama. Ada banyak batu-batu reruntuhan yang tampaknya belum disusun kembali saat proses restorasi.
Pada bangunan utama Angkor Wat, terdapat kolam yang tampaknya dulu digunakan sebagai tempat pemandian. Terdapat juga pelataran lagi yang mengantarkan kita ke puncak Angkor Wat. Sayangnya, tangga curam yang mengantarkan ke puncak sudah tutup diatas jam 5. Jadi lah kami hanya berkeliling sejenak sebelum kembali lagi ke bawah untuk mencari spot terbaik menikmati sunset. Toh, besok kami akan datang lagi😉

Sunset at the lake in front of Angkor Wat

Begitu “pertunjukkan” sunset usai, kami segera kembali mencari Yoyo. Lucunya, selama kami di sana, yoyo selalu bisa menemukan kami untuk selanjutnya datang menghampiri dari antah berantah. Berhubung sudah malam, kami pun meminta Yoyo mengantarkan ke tempat makan dimana kami bisa sekalian menikmati Samara dance. Memang bukan hobi saya untuk menikmati pertunjukkan tari begitu, tapi biarlah, biar lebih afdol mengunjungi Siam Reap-nya. Hahaha!
Kami diantarkan Yoyo ke salah satu tempat terkenal yang menyajikan makanan dimana kita bisa sekaligus bisa menikmati pertunjukan Samara, bernama Koulen Restaurant. Untungnya kami masih bisa mendapatkan tempat karena biasanya kita harus reservasi terlebih dahulu. Saran saya, minta tempat duduk di tengah, tapi paling belakang, agar bisa dengan mudah bolak-balik mengambil makanan. Hehehe! Tenang saja, toh pertunjukan tetap bakal terlihat kok, karena kan semua orang duduk sambil menikmati makanan😀

Samara Dancers last pose after the show

Untuk menikmati Samara di Koulen, kita diharuskan membayar sebesar $12 sudah termasuk makan malam sepuasnya yang disajikan secara buffet. Tapi unutk minuman kita harus memesan lagi yaahh…Makanannya lumayan, banyak macamnya. Tapi yang paling benar-benar menggugah selera adalah spring roll khas kamboja yang berisi sayuran dan tidak digoreng. Rasanya segeer….Begini nih, bentukannya

Cambodian Spring Rolls

Selesai makan, kami pun meminta Yoyo untuk diantarkan ke Hotel. Kami berencana untuk jalan ke Night Market dari hotel. Golden Villa Temple ini termasuk memiliki posisi yang sangat strategis. Cukup dengan berjalan kaki, kita bisa berpergian ke night market, central market, atau bahkan ke Pub Street tempat berkumpulnya cafe-cafe di siam reap. Karena sudah lelah, kami pun memutuskan untuk ke night market terlebih dahulu. Night market ini menarik. Dan ingat, semakin kedalam semakin malam, semakin murah barang-barang yang dijual. Untuk kalian yang suka membeli kaos-kaos, sayang sekali di kamboja kaos-kaos yang dijual bahannya sangat gak bagus dan tidak menyerap keringat. Saya menemukan kios kecil milik orang jepang di pojok belakang Night Market dekat Island Bar. Dia menjual beberapa kaos yang menurut saya sangat layak untuk dijadikan oleh-oleh. Sayang tidak bisa ditawar, tp toh harganya memang termasuk yang paling murah untuk kaos berbahan baik disekitar night market situ. Island bar sendiri merupakan bar ditengah-tengah night market. Bentuknya cozy, membuat kesan seperti di carribean. Buat para pria-pria yang mau melepas lelah sembari nunggu para wanita selesai belanja, Island Bar ini bisa jadi pilihan tempat yang seru buat duduk-duduk dan minum-minum. Di sekitarnya juga banyak ko tempat-tempat yang menyediakan jasa pijat refleksi. Tapi saya dan Tati tidak terlalu lama berjalan-jalan di Night Market malam itu. Kami memutuskan untuk cepat istirahat mengingat besoknya harus bangun subuh untuk mengejar sunrise di Angkor Wat. Banyak hal-hal yang menarik pastinya yang bisa dilakukan esok harinya😉

Tati at the night market. Selusuh apapun, secapek apapun, tetep nenteng belanjaan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s