Traveling bersama (nebeng) keluarga diplomatik

Posted: October 13, 2012 in Lifestyle, Travelling and Culliner
Tags: , , , , , , , , ,

Atau bisa disebut dengan nebeng.

Sewaktu saya traveling ke Jerman sekitar 3 tahun yang lalu (ya ampun, sudah selama itu?!). Seperti yang waktu itu pernah saya ceritakan di sini, saya ikut ke Berlin atas ajakan Dona, teman kosan saya yang juga anak duta besar Jerman saat itu, Eddy Pratomo.  Berhubung saya berangkat bareng dengan Dona, semua fasilitas untuk dia, ya saya rasakan juga. Lebih-lebih sewaktu pulangnya, om Eddy juga ikut pulang bareng dengan kami. Wah, makin mantab lah itu perjalanan.

Traveling dengan salah satu keluarga duta besar artinya gak usah mikir bawaan bahkan gak perlu pusing mikirin letak terminal karena pasti sudah diarahkan atau selalu ada iring2an staff kedutaan yang mengawal.  Sewaktu dari Jakarta, saya juga tidak perlu ke ruang tunggu penumpang biasa, karena saya dan Dona menunggu di ruangan yang bentuknya seperti ruang tamu khusus imigrasi.  Orang tua saya yang waktu itu mengantar juga dipersilakan saja masuk ke ruang tunggu itu meskipun letaknya ada di dalam padahal mereka tidak memiliki tiket.  Urusan imigrasi diurusin, tiba-tiba paspor saya juga sudah ada capnya bahkan saya tidak perlu bayar airport tax! Bahkan, ketika saya dan Dona harus transit di Frankfurt, kami dijemput oleh staff kedutaan yang mengantarkan kami ke ruang tunggu untuk penerbangan ke Berlin, bahkan sempat dibelikan coklat panas…hihihih…

Di berlin saya pun tinggal di wisma kedutaan indonesia di Berlin yang sebenarnnya diperuntukan untuk duta besar dan tamu-tamu kenegaraan.  Rumahnya terdiri dari 3 tingkat. Di teras dipasang lambang negara Garuda Indonesia, dan di ruang tamu pun terdapat  berbagai ornamen khas Indonesia, seperti miniatur gamelan set yang disimpan dalam kotak kaca. Di wisma kedutaan juga biasanya tinggal para asisten duta besar yang masing-masing memiliki job descnya sendiri. Biasanya, tiap duta besar diperbolehkan membawa 3-4 asisten yang biasanya berperan sebagai sekretaris pribadi, kepala pembantu rumah tangga, dan koki. Artinya, makanan selalu tersedia, dan untuk beberapa waktu, bisa minta dianter-anterin! Yah, walopun tentunya kalau mau minta dianterin, harus bareng Dona atau keluarga lainnya, tapi kan lumayan, waktu itu saya diantar jalan-jalan ke Berlin Designer Outlet  yang terletak di daerah B-5, daerah yang jauhnya naujubileee dari kota berlin sendiri. Bawa belanjaan sepulang dari sana pun tidak repot karena waktu itu kami berangkat naik mobil kedutaan. Dengan adanya koki di wisma, saya pun bisa minta tolong untuk dibuatkan bekal sebelum jalan-jalan seharian.

Tinggal di wisma kedutaan, juga berarti bakal banyak staff-staff kedutaan yang datang.  Tinggal sering-sering hangout di dapur, kita bisa dapat banyak cerita-cerita seru, berbagai macam tips and trik, bahkan tentu saja, makanan ataupun cemilan gratis😀. Waktu saya di sana, kebetulan sedang banyak acara karena saat itu bertepatan dengan lebaran dan setelah itu kedutaan mengadakan acara resepsi kenegaraan.  Biasanya, di acara-acara seperti akan banyak mahasiswa yang akan kerja sambilan. Juga tentu saja ada anak-anak diplomat yang berkumpul dengan keluarganya di sana. Saya jadi punya kenalan baru dan sempat diajak hangout ke Orangenburger, suatu jalan di Berlin yang dipenuhi bar-bar seru.

Sewaktu saya ke Brussels, saya pun menginap di wisma duta besarnya. Seperti yang pernah saya ceritakan juga di sini, saya, Dona, Dior dan Mas Kemal dipersilakan untuk tinggal di apartemen yang terkoneksi dengan rumah duta besarnya. Lengkap dengan 2 kamar, ruang nonton tv, dapur kecil, dan kamar mandi, tapi karena terpisah, kami pun menjadi tidak segan untuk pulang agak telat ataupun secara tidak sengaja membuat keributan.  Sewaktu datang, saya dan Dona diajak makan bersama keluarga duta besar, di ruang makan mereka yang berbentuk rumah kaca. Sembari makan dan ngobrol-ngobrol, kami bisa memandang kebun yang sangaat luas. Kami pun sempat diberikan tumpangan ke pusat kota dan dijelaskan petunjuk-petunjuk mengenai transportasi yang bisa kami gunakan.Lumayan, gak perlu takut nyasar lagi..:D

Pulang dari Berlin, om Eddy ikut pulang ke Indonesia.  Yang ngantar banyaaak banget! Tapi yang bikin saya seneng sih, bagasi yang ternyata melebih batas timbangan pesawat, lolos dari biaya overweight. Well, antara lolos, atau jangan-jangan dibayarin yak?? ..Oopss!

Comments
  1. nadiafriza says:

    Your nicest travel post yooo!🙂

    It’s always fun to travel abroad, especially when we don’t have to think about the transport and accomodation.🙂

  2. agnesgitacahyandari says:

    emang akan selalu punya pengalaman berbeda kalau ke luar negri ‘nebeng’ kenalan/kerabat diplomat! 2 tahun lalu saya juga pergi ke Jerman dan menginap di Wisma KJRI di Frankfurt. Meskipun kurang merasa jadi turis nyasar, tapi pengalamannya juga berbeda dan nggak kalah menyenangkan.

    Oia, saya suka sekali tulisan-tulisan di blog ini!😀

    Gita.

    • Halo mbak gitaa..
      Iyaa kan, tiap jalan2 pasti pny pengalaman tersendiri. Dan jujur aja, jalan2 sama keluarga kedutaan beserta fasilitasnya ini termasuk pengalaman seru yg langkaa..hihihi
      Thank you yaaa sudah mampir..salam kenaal!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s