Angkor Wat dan Keajaiban Tersembunyi lainnya

Posted: April 4, 2013 in Lifestyle, Travelling and Culliner
Tags: , , , , , , , ,

Terkadang, yang namanya kesialan pun bisa menjadi cerita lucu. Seperti yang saya dan Tati alami pada hari kedua kami di Siam Reap.  Hari itu, kami berencana untuk menyaksikan sun rise di Angkor Wat. Hari sebelumnya, kami sudah mengutarakan niat kami ke Yoyo, supir tuktuk langganan kami selama di Seam Reap.  Menurut saran dia, kami harus sudah siap di jemput sebelum pukul 5 pagi.

Sesuai dugaan, saya dan Tati agak kesiangan dan baru berangkat dari hotel sekitar 5.15. Yoyo pun langsung memacu tuktuknya membelah udara pagi Siam Reap yang dingin. Dingin yang membuat saya dan Tati khawatir, karena sebenarnya dingin itu berasal dari mendung yang menaungi langit. Sebenarnya saya agak yakin kalau hujan masih lama. Tapi yang bikin tambah panik adalah saat Yoyo berteriak dari kemudinya kepada kami, “It won’t be raining soon, but I’m afraid you can’t see the sun rise because it will be blocked by clouds!” …arrgh! Sudah bangun pagi (meskipun tidak mandi :P) tapi kalau tidak dapat sunrise rasanya percuma. Dasar sableng, kami pun hanya cengir-cengir pasrah sambil menyilangkan jari berharap mujur.

Sesampainya di Angkor Wat, ternyata sudah ramai sekali dengan turis-turis yang juga ingin menonton sunrise.  Yoyo pun menyuruh kami untuk buru-buru masuk kompleks Angkor wat agar tidak terlewat sunrise dan bisa mencari spot yang bagus. Di dalam, sudah banyak sekali turis-turis yang menggelar tikar, membawa kursi lipat, memanjat reruntuhan dan segala macam tingkah lain demi mendapatkan spot yang bagus untuk menonton sunrise.  Saya dan Tati pun duduk di salah satu reruntuhan yang dulunya mungkin pintu masuk Angkor Wat. Dari foto-foto, mondar-mandir, sampai duduk-duduk bengong sudah kami lakukan demi menanti sunrise. Lama-kelamaan, langit semakin terang tapi sama sekali tidak ada sosok matahari yang keliatan dari balik awan. Pasrah, kami pun hanya memotret samar-samar bayangan matahari yang sepertinya lebih memilih selimutan di balik awan. Sial, tau gitu kami juga masih lanjut selimutan kalii!

Hanya semburat tipis dari matahari yang muncul dibalik langit yang mendung😦

Kembali ke tuktuk (lagi-lagi Yoyo bisa menemukan kami diantara kerumunan orang sebelum kami panggil meskipun kami sempat berhenti untuk membeli sarapan),  Yoyo langsung menawarkan untuk menjelajah kompleks Angkor Wat. Tentu saja kami yang sudah sarapan sudah tidak manyun lagi dan semangat untuk menjelajahi seluruh kompleks reruntuhan kota tersebut. Bayon adalah “kota” pertama yang kami singgahi.

Dari awal saya dan Tati memasuki kompleks Bayon, kami sudah dibuat tercengang dengan suasananya yang entah kenapa berbeda dari yang kami rasakan di Angkor Wat. Tampaknya dulu Bayon merupakan salah satu kota yang besar, karena gerbangnya saja sudah sangat megah. Yoyo memberhentikan tuktuknya di depan candi utama dan berkata, “I’ll wait in the other side right there, you just take your time as long as you want here. Have fun!” Dan segera, saya dan Tati pun jejingkrakan menuju candi Bayon.

Bayon terkenal dengan ukiran wajah Budha yang tersenyum dengan ukurannya yang sangaaaat besar. Untuk mencapai puncaknya, kita harus memanjat tangga yang cukup curam yang bahkan bisa membuat kita merangkak untuk menaikinya.  Tapi tepat saat kami menapaki anak tangga kami, kami serasa masuk ke dunia yang berbeda. Jauh berbeda juga dengan apa yang ditawarkan oleh Angkor Wat. Kami serta-merta dikelilingi candi-candi tinggi berukir wajah Budha yang super besaaaar. Kalau saya tidak salah ingat, ada sampai 50 wajah Budha yang terukir dan tersebar diseluruh menara canti. Masing-masing menara terdapat 4 wajah Budha yang menghadap ke segala arah.  Wajah Budha ini sangat khas dengan senyumnya dan karena itu terkenal dengan sebutan the Smiling Budha.

Smiling me beside the smiling budha😀

Bayon ini memang ternyata adalah sebuah kota. Tampak disekeliling candi smiling Budha reruntuhan bangunan yang sepertinya dulu digunakan tempat tinggal. Satu yang saya sadari, ko kayaknya dulu gak ada kamar mandi di dalam rumah yah? (penting itu, cuy!) Selain itu, juga terdapat candi lagi yang bentuknya sama persis dengan Borobudur, tapi sayang, akses untuk naik ke sana saat itu sedang di tutup dan akhirnya saya dan Tati pun cukup puas berjeprat-jepret dipenjuru kota Bayon selama hampir 2 jam sendiri. Hehehe…

Setelah dari Bayon dan makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Ta Phrom. Ta Phrom ini dikenal sebagai candinya Tomb Rider. Jujur saja, bukan Tomb Ridernya yang bikin penasaran, toh sebenernya saya juga lupa adegan mana di film itu yang ada Ta Phromnya. Saya bener-bener penasaran untuk melihat langsung pohon-pohon tua yang menjalar menembus reruntuhan candi. Pohon sebesar itu, pasti sudah ratusan tahun umurnya. Dan tentunya bangunan yang ditembus itu juga berumur jauh lebih lama lagi.  Tidak hanya akar yang menembus, tapi sampai batang-batangnya, sehingga sebatang pohon sangat besar berdiri kokoh menimpa reruntuhan candi.  Saya juga tidak tahu, apakah itu batang pohon atau malah akarnya yang sudah sebesar itu saking tuanya si Pohon. Dan tentu saja, saya dan Tati berpose di spot wajib Ta Phrom yang terkenal karena muncul film Lara Croft : Tomb Raider.

Udah mirip Lara Croft belum??😉

Setelah puas mengelilingi reruntuhan Ta Phrom, kami pun diantarkan Yoyo ke tujuan berikutnya.  Tanpa sadar kami dimana, Yoyo pun menurunkan kami di suatu reruntuhan lagi yang terletak di dekat danau. Seperti biasa, Yoyo pun bilang akan menunggu kami di sisi yang berbeda. Tanpa banyak tanya, kami pun jalan menyusuri jalan setapak sambil berpikir palingan itu adalah salah satu reruntuhan angkor wat. Ditengah perjalanan, mendadak tangan saya terasa sakit sekali. Mungkin akibat terlalu lama menenteng kamera. Saking tidak tahannya, Tati pun dengan sukarela memijit tangan saya. Duduk di pinggir reruntuhan bangunan tua. Hujan. Ditonton monyet. Sumpah, itu aneh banget memang. Lebih aneh lagi begitu kami sadar karena sebenarnya kami duduk di bagian belakang Angkor Wat. Yap, sebenernya kami sudah sampai kembali ke Istana Angkor Wat. Dan karena keasyikan pijit2an kami pun tidak sadar! hahaha!

Karena kemarinnya saya dan Tati tidak sempat untuk naik ke puncak Angkor Wat, kami pun ingin mencoba untuk naik. Berhubung hujan tampak sudah reda, kami pun menaiki anak tangga buatan yang dibuat untuk mempermudah memanjat puncak angkor wat. Itu saja sudah terasa curam banget. dan begitu kami sampai dipuncaknya, wow! ternyata di atas masih terdapat ruangan yang cukup besar. Tampaknya dulu mungkin ini tempat khusus raja, lengkap dengan kolamnya. Benar-benar terasa megah dan mewahnya. Belum lagi kita bisa melihat ke sepenjuru kota Angkor dari sini. Tapi kekaguman kami pun dalam sekejab berubah menjadi kepanikan lalu jadi pasrah. Tiba-tiba hujan datang kembali dan kami masih ada di puncak Angkor Wat! Heyaah…jadilah selama sekitar hampir setengah jam kami pun terperangkap di atas puncak Angkor Wat bersama dengan beberapa orang turis lainnya. Pasrah, kami pun hanya duduk-duduk sambil menikmati pemandangan seantero kompleks angkor sambil nyanyi-nyanyi gak jelas. Untung hujan gak turun lama, jadi saya dan Tati tidak terperangkap lama-lama. phiuh!

Puas sudah pengalaman kami hampir seharian di kompleks. Dari bangun subuh-subuh terus gak dapet sunrise, manjat-manjat sana-sini, tangan kesakitan sampai harus dipijitin di tengah hujan sambil diliatin monyet, sampai keperangkap hujan di puncak Angkor Wat. Sial? mungkin terlihat seperti itu. Tapi yang ada kami sepanjang hari justru sibuk menertawakan kebodohan dan kesialan kami waktu itu.😀

Tetep bisa cengengesan itu yang bikin liburan sesial apapun berasa fun😉

Comments
  1. Yuna says:

    Dunia per-blogan ternyata sesempit daun kelor juga. gw kenal tati yang di foto, anak UBG🙂
    searching ttg Cambodia, sampai di sini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s