Archive for the ‘Life|Love|Souls|Conspiracies’ Category

Belum juga dijawab pertanyaan pertama, biasanya kalimat kedua sudah meluncur begitu saja dari mulut kebanyakan kerabat indonesia. Yeap, salah satu budaya kita kayaknya memang budaya oleh-oleh. Dimana tiap ada kerabat dekat yang berpergian, kemanapun dia, bagaimana pun dia pergi, dalam rangka apa dia pergi, pokoknya nitip oleh-oleh dulu deh! Giliran yang dititipin biasanya cuma nyengir-nyengir pasrah setengah berharap si penitip lupa nagih 😛

Tapi memang yang namanya oleh-oleh itu bikin serba salah. Mau beli, duit sering gak cukup atau bisa-bisa bikin space di luggage mengecil bahkan bikin overweight. Mau gak beliin, gak enak. Apalagi kita pun secara tidak sengaja juga sering minta oleh-oleh ke kerabat yang berpergian. Nah, coba deh intip beberapa saran oleh-oleh yang bisa (atau biasa) dijadiin oleh-oleh disaat darurat atau mungkin bisa jadi ide untuk koleksi bukti traveling kita :

(more…)

Bahasa blog

Posted: March 7, 2012 in Life|Love|Souls|Conspiracies
Tags: ,

Labil.
Agak nggak nyangka jg klo urusan per-bloging-an bisa jadi labil jg.
Awal2 penulisan blog saya menggunakan bahasa “lo-gwe”. Lalu tiba2 ada keinginan untuk menjadi sedikit lebih dewasa dengan penggunaan kata “saya”….dan saya pun langsung merasa tidak nyaman membaca tulisan yg saya buat…heah.

Kalau dipikir-pikir, ngapain ribet yak??jelas-jelas blog itu tempat untuk nuangin segala pemikiran dan pengalaman. Terserah mood aja harusnya untuk gimana bahasa yg digunakan. Yang penting kontennya. Ya nggak??

Well, untuk kedepannya mungkin saya akan tetap menggunakan “saya”. Biar terkesan kaku, tp mungkin akan saya coba ulik sedikit biar bahasa yg disampaikan terasa lebih ringan.

Bosan?
Jyaelah…namanya jg masih belajar. Hahaha!

Hidup pasti berubah.  Cepat atau lambat, dalam keadaan yang lebih baik atau lebih buruk, menjadi yang terduga atau tidak, yang jelas pasti akan berubah.  Dan itu semua perlahan akan merubah orang yang menjalani hidup itu.

Saya yakin, banyak orang yang pernah mengalami perubahan hidup yang begitu cepat.  Biasanya tiba-tiba berubah drastis.  Ntah mendadak kaya, mendadak miskin, mendadak sakit parah, mendadak dapat warisan dari orang yang gak dikenal, mendadak jadi istri orang (eh, yg ini ko macam habis hangover) atau segala dadakan lainnya.  Tapi yang mau saya ceritakan kali ini (setelah 6 bln meninggalkan blog) benar-benar perubahan hidup saya yang bertahap, tapi segalanya sungguh sangat cepat.

Yang penting, heppii….

Tepat setahun yang lalu di tanggal ini, saya baru saja menyelesaikan penelitian saya di Bogasari.  Seharusnya sayamenggunakan waktu-waktu setelah itu untuk rajin berinteraksi dengan pembimbing, mengejar ketertinggalan saya dalam mengerjakan Tugas Akhir sementara sudah banyak teman-teman saya yang maju sidang akhir dan akan wisuda oktober 2010.  Tapi saya justru tidak peduli.  Ntah mengapa saya waktu itu cenderung masa bodoh dengan Tugas Akhir saya. Saya anggap itu sesuatu yang menghalangi saya untuk melakukan apa yang saya mau.  Saya pun kesana-kemari, mencoba ini-itu, leha-leha, main-main, bimbingan pun dilakukan hanya sebulan sekali,dan pada bulan Desember, bab 1-3 gak berkembang sejak pertama kali saya tuliskan di bulan Agustus.  Tapi entah mengapa, saya puas dengan apa yang saya dapatkan pada masa-masa itu. Pengalaman-pengalaman yang nggak akan saya dapatkan kalau saya serius mengerjakan TA, cepat sidang, dan mungkin segera bekerja. I’m so grateful about what i had that time, even though it was one of my darkest time (maaf gak bisa cerita terlalu detil ttg ini).

Memasuki tahun 2011, saya mulai kenyang dengan pengalaman-pengalam bodoh yang saya lakukan bulan-bulan sebelumnya. April di depan mata, Yo. Itu yang selalu kepikiran di otak saya saat itu. Kepikirannya sih, dari januari. Realisasinya? Februari. Waktu deadline? Maret.  Tiba-tiba saja hidup saya berubah dengan sendirinya, dengan kesadaran sendiri (yg harusnya mungkin muncul sejak bulan-bulan sebelumnya).  Siklus hidup berubah. Tidur saat Subuh, Bangun saat Zuhur, Bimbingan saat Ashar, les jerman saat Maghrib, dan mulai bekerja lagi saat Isya.  Sarapan jam 12, makan siang jam 16, makan malam jam 22. Bergeser, berputar, acak-adut. TA pun selesai dalam waktu kurang dari 3 minggu. itu pun saya juga heran, kenapa pembimbing percaya saja saya maju untuk sidang. Dan 9 Maret, saya dapat gelar Sarjana Teknik saya.

(more…)

Untuk pertama kalinya gwe menyelesaikan cerpen karangan gwe sendiri. Jangan berharap apa-apa disini, ini benar-benar karangan seorang amatir yang sama sekali tidak mengerti tentang cerpen. Jangan berharap akan cerita yang menyentuh dan mendesak air mata, jangan berharap akan cerita yang mengeluarkan emosi dan amarah, apalagi berharap akan cerita yang akan membuat kalian terpingkal-pingkal. Berharap lah akan cerita yang sangat sederhana…Enjoy! 😉

3 Porsi Rokok dan Bir

“Kamu itu manusia yang hebat, Kai!”, seorang sahabat dengan penuh keyakinan mengatakan kalimat itu seraya menatap mataku lurus-lurus.

“Oh ya? HAHAHA!”

Aku hanya tertawa. Alisku naik sebelah. Mataku membalas tatapan sahabatku itu dengan pandangan yang mengatakan, “Dan kamu itu manusia yang aneh bisa berpikiran seperti itu.

Aku ini manusia lemah. Dengan mudahnya hembusan angin ini akan membawaku berputar. Berputar dan terus berputar-putar mengikuti arah angin. Bahkan saat hembusan angin itu semakin jauh mengajakku berputar, aku masih saja terhanyut olehnya. Dan aku semakin tidak menyadari bahaya yang mengancamku di ujung pusaran angin itu.

Please continue read 😉

Berkat status FB teman gwe, mail, yang bertuliskan :

Subhanallah, pelangi berbentuk lingkaran! Warga bandung, lihat langit di atas kepala kalian ^^

gwe pun bisa menyaksikan salah satu keindahan alam di tengah hari bolong yang terik ini :

Baru kali ini gwe bisa melihat HALO dengan mata kepala sendiri!

Yap, Halo, lingkaran yang seperti pelangi yang terjadi karena sinar matahari itu sendiri. Waaww!

Gak bohong!

secara tiba-tiba saja, insya Allah, gwe tidak merayakan lebaran di Jakarta bersama keluarga besar, tapi gwe akan merayakan di Jerman! wow!

mimpi apa coba gwe?
Rencana gwe, gwe akan keliling eropa tahun 2011, backpacking. Dan, dengan segala kerandoman dan keimpulsivan gwe, rencana mengunjungi benua itu dimajukan hingga lebaran nanti! wew!

Semua benar-benar diluar perkiraan.
Gak ada bayangan di benak gwe sebelumnya, saat gwe menerima BBM dari Dona temen gwe.  dia pun bertanya suatu hal sederhana, berapa harga tiket masuk ke dufan. Ya, dufan.

Dan percakapan pun bergulir tentang wahana-wahana di dufan. Antriannya. Yang seru atau yang tidak. Dan mulai lah kami membandingkan dengan Disney Land. Dona dengan Disneyland paris, gwe dengan Disneyland Los Angeles. Dan merembet ke segala jenis Universal Studio. Dan, ntah apa yang Dona pikirkan, tiba-tiba dia teringat sesuatu, dan berkata, “September nanti gwe mau ke jerman, agak lamaan, 20 hari gitu. Mau ikut gak??”

What????

Gwe tanya waktunya, dia bilang tanggal 5-23 september. Untuk pertama kalinya, gwe membuka kalender pendidikan ITB jauh sebelum kuliah dimulai. Dan, libur lebaran jatuh pada tanggak 6-17 september. Dan gwe pun mulai berkalkulasi. Jika gwe pulang tanggal 23, gwe hanya bolos seminggu, dan lagi pula kuliah gwe sudah mulai jarang. Definitely, it’s the right time!!

Dan gwe pun memulai diskusi dengan mama. Mulai khawatir karena justru biasanya Exit Permit dari orang tua lebih susah keluar dari pada kedutaan mana pun. Tapi, entah angin apa, tiba-tiba nyokap gwe bilang, “ya udah, ntar mama bilang papa”. Wew!!

Mulai lah gwe panik mencari tiket, karena syarat orang tua gwe hanya boleh pergi jika dan hanya jika satu pesawat sama Dona. Sementara Dona sudah membeli tiket duluan. Dengan bijaknya, si Dona sudah membeli tiket Lufthansa. Astaga, kurang mahal apa lagi coba??? Setelah panic attack yang cukup lama, akhirnya, terbelilah tiket PP Jakarta-Berlin-Jakarta dengan Lufthansa,  $ 1630,11. uh oh. Impulsive termahal.

Jam 6 sore membicarakan Dufan, jam 11 malam sudah memiliki tiket. Wawww!!

Deutschland, kommen hierher, ich!!

Suatu waktu, Gw sedang kalut hingga temanku (inisial PS, panggilan D) berkata seperti ini :

” lebih baik nangis, daripada dipendam jadi dendam”

Dan gw yang antipati sama yang namanya menangis pun menjawab :

“daripada menangis dan terlihat lemah, lbh baik aku dendam tapi terlihat kuat”

Temanku itu hanya tertawa.
Tapi gw langsung terngiang jawaban apa yg akan seorang Gandhi berikan (oh, jgn tanya knp Gandhi bisa muncul) :

“an eye for an eye makes the whole world blind”

Sial.

Tapi lalu gw pun teringat, dan mencoba mendebat orang bijak itu :

“an eye for an eye makes the whole world blind,huh? But, I love him..oh,you know,love IS blind. We’re already blind”

Yes. Gwe mengalahkan Gandhi dalam debat satu arah ini. Haha!

Sent from my BlackBerry® smartphone