Posts Tagged ‘Traveling’

Mungkin kebanyakan orang kalau ditanya apa yang dibayangkan jika jalan-jalan ke daratan Tiongkok akan menjawab, “Wah, susah bahasanya” atau “Katanya jorok ya?”. Yup, itu juga yang saya alami ketika sedang mempersiapkan perjalanan ke Tiongkok dengan suami bulan April 2015 lalu. Sebelumya saya memang sudah sempat mengunjungi Beijing dalam rangka business trip. Waktu itu aman-aman aja sih, tapi kan segala sesuatu yang sudah diatur dengan travel agent akan berasa aman-aman saja. Hahaha. Jadi lah saya dan suami mempersiapkan segala sesuatu mulai dari belajar sedikit-sedikit kosa kata Mandarin, berbagai makanan kaleng (biar makanan tetap bersih, halal, dan gak ribet mesen-mesen karena kendala Bahasa), segala macam alat sanitasi mulai dari tissue kering, tissue basah, hand sanitizer, tissue basah berbentuk sarung tangan yg bisa dipakai untuk mandi, dll, dsb. Ternyata, sudah dengan persiapan segitunya tetep aja saya dan suami menemukan hal-hal lucu yang tampaknya memang khas kita temukan saat traveling ke negeri Tiongkok.

(more…)

Advertisements

Saya yakin, seberapa seringnya kamu traveling, pasti ada beberapa jenis barang yang tidak boleh ketinggalan. Beberapa jenis barang yang kalau ketinggalan bisa langsung bikin panik atau malah bisa menurunkan semangat traveling. Ya mungkin gak se-lebay itu, tapi untuk saya sendiri, ada sih barang-barang yang kalau ketinggalan bisa bikin saya panik dan bete sampai bisa bikin mood drop di saat jalan-jalan.

HP (smart phone lebih tepatnya) + aplikasi-aplikasi berguna + aksesorisnya

Ini sih pasti semua orang merasakan hal yang sama dengan saya. Smartphone zaman sekarang sudah seperti Kompas, peta, dan kamera dalam satu paket. Selain kamera dan tentunya berbagai macam sosial media, aplikasi terpenting menurut saya yang harus ada di HP adalah peta. Apalagi yang offline. Walaupun memang tetap lebih enak dan mudah membaca peta yang sudah tercetak di kertas, tetap peta di HP pun menjadi andalan di saat terdesak. Belum lagi kalau kita bisa mengaktifkan jaringan internet selama di luar negeri, semua jadwal transportasi, cara menuju ke suatu tempat, sampai rekomendasi untuk mengunjungi suatu tempat pun bisa diakses dengan mudah sehingga kita tidak menghabiskan banyak waktu di jalan. Bahkan, disaat “terdesak” pun, kita bisa membagi internet dengan cara tathering ke teman (terdesak di sini sebenarnya lebih ke kebutuhan untuk update status dan upload foto ke sosial media sih..hahaha!). Well, tapi jangan lupa, biasanya smartphone yang dipakai terus-menerus pasti baterainya cepat bocor. Jangan lupa bawa power bank ya! Dan kalau pengen foto rame-rame tanpa ada 1 orang yang dikorbankan sebagai juru foto, jangan lupa bawa tongsis yaa! 😀

Aplikasi berguna untuk traveling :

Ulmon offline maps (Maps2go, bias di donlot sesuai dengan kota yang sedang kita kunjungi. Lengkap!)

Bookings.com – situs booking online untuk akomodasi. Enaknya, kita tinggal book2 aja tanpa perlu bayar terlebih dulu. No cancellation fee juga. Jadi cocok kalo mau ngurus visa tp perlu bukti booking hotel. Coba juga hostelworld.com untuk list hostel dan airbnb untuk list apartment

Aplikasi-aplikasi yang berhubungan dengan public transportation di tempat yang kamu kunjungi nanti. Penting banget untuk tau jadwal dan rutenya. Ada yang offline, tapi kalau yang online dia akan update kalau-kalau ada perubahan jadwal.

Camera (yang beneran, bukan yang dari henpon!)

Well, ini mungkin hanya saya pribadi, tapi motret make kamera itu lebih berasa motretnya sih daripada make HP. Mau itu tipe SLR atau pocket, jadi berasa lebih puas aja. Biasanya memang traveling gak jauh-jauh dari fotografi. Makanya kalau make kamera langsung untuk mengabadikan momen rasanya lebih puas karena tidak instan. Oya, jangan lupa juga bawa tambahan media untuk nyimpen hasil foto kita. Bisa dengan membawa tambahan memory card atau hard disc jadi foto-foto yang diambil di hari ini bisa dipindahkan ke dalam hard disc dulu biar besoknya memory card sudah kosong lagi.

Tapi memang sering bingung sih kalau udah mikir enaknya make kamera yang mana. Mau make SLR biar kualitas gambar jadi lebih bagus , tapi bawanya berat dan ribet. Belum lagi kalau harus bawa tambahan macam-macam lensanya. Tapi memang, kita jadi lebih mudah mengedit hasil jepretan karena ukuran file yang besar. Palingan kalau memang tidak mau lebih ribet, bisa membawa kamera poket sih. Tapi ya itu, pasrah sepenuhnya sama hasil jepretan automatis dari teknologi di dalam kameranya itu. Atauu..bisa juga membawa kamera yang prosumer atau bridge camera seperti Sony NEX series, Olympus SP series, dll, dsb. Pengoperasiannya mudah, tidak berat, dan bisa menghasilkan hasil yang mendekati SLR. Whatever your camera is, it’s still a must bring thing to capture every single journey you make!

Travel adapter + Colokan T

Nah ini penting buat ngecharge 2 gadget di atas. Kadang, saking semangatnya traveling, saya sering lupa untuk ngecek bentuk colokan di negara yang di kunjungin. Taunya, udah yang colokan 3 lah, 2 pipih lah, dll dsb. Nah kalau bawa ini kan, udah aman aja mau nyolok dimanapun bisa. Beli yang menyediakan semua jenis colokan dan kalo bisa yang ada colokan USBnya. Colokan T juga perlu! Itu loh, yang 1 colokan bisa buat 3 sekaligus. Kadang, di hostel itu hanya dikasi 1 colokan untuk 1 tempat tidur. Di hotel-hotel pun bisa saja terbatas. Atau memang dasar kitanya aja bawa gadget kebanyakan. Hahaha! Naah, colokan T ini tinggal kita colok di travel adapter, terus voila! Kita bisa ngecharge 3 gadget sekaligus deh. Udah deh, ngaku aja, hari gini sih minimal gadgetnya 1 HP (kadang 2 malah), 1 Tablet, dan 1 kamera. Belum lagi yang suka bawa laptop. Hahaha!

Fiber towel

Fiber towel itu adalah jenis handuk yang terbuat dari bahan kain fiber. Ini salah satu yang wajiiib banget saya bawa-bawa khususnya kalau bakal nginep di hostel atau ke pantai karena bahannya cepet kering! Dia juga tipis dan kalau basah gak berat. Jadi mudah dibawa kemana-mana juga. Cepet keringnya ini cepeeeet banget loh. Diangin-anginin dikit juga bener-bener kering kerontang. Enak kaan, gak perlu jemur2 kelamaan.

Fiber towel. Bisa dibeli online atau di toko-toko traveling seperti travelogue

Sunglasses

Kalau kata suami saya, ini obat ganteng. Hahahah! Iya sik, lagi selusuh apapun begitu make kacamata hitam pasti gak keliatan lusuhnya. Udah gitu, gak enak kaan kalau kita mau foto pas lagi agak terik terus hasilnya malah muka ngerengut2 gak jelas karena silau.

Kantong perut

Berguna banget buat bawa cash agak banyak. Jujur sih, saya termasuk orang yang suka bawa cash sedikit lebih dari pada rely on credit card. Karena biasanya credit card belum tentu bisa dipakai atau bahkan credit card kita gak diterima sama mesinnya mereka. Biasanya juga saya bawa cashnya selain mata uang lokal, saya juga bawa USD karena itu patokan yang paling sering diterima di money changer dan mungkin biayanya masih dihargai cukup tinggi

Botol Cebok

Khususnya buat cewek, botol ini rasanya datang dari surgaaa!! Tau kan, kalau hanya di Indonesia cebokan itu disediakan baik dalam bentuk selang atau pun gayung dan ember? Selama ini, hanya di jepang yang toiletnya lengkap dilengkapi bidet. Biasanya yang hanya disediakan tuh tissue dan kadang tissuenya dari daur ulang jadi rasanya kalau dipakai buat menyeka daerah sakral langsung mikir-mikir. Terima kasih kepada orang jepang yang kerjanya mikirin hal-hal kecil tp esensial sehingga saya menemukan botol dari surga, botol cebok! Botol ini terbuat dari plasti yang bisa di-squish agar mengeluarkan air (semacam botol kecap), tapi corongnya berbentuk melengkung sehingga bisa menembakkan air ke atas. Ya, memang untuk cebok! Hehehe…Eits, jangan salah, gak cuma cewek, cowok-cowok berpencernaan (terlalu) lancar sih pasti merasa tertolong dengan ini. Hihihi..

Botol cebok, Penyelamat dunia.

 

Itu sih rekomendasi dari saya. List ini bisa saja berbeda tiap-tiap orang karena kebutuhan orang kan beda-beda. Tapi bener deh, bagi saya, ini bener-bener list dasar yang kalau kelupaan dibawa paniknya bisa luar biasaaa…hahaha!

Sebenarnya saya sudah pernah posting dengan judul yang serupa. Tapi semakin kesini saya semakin gatal untuk mengulik lebih dalam lagi.

Kalau diperhatikan, sekarang semakin banyak orang-orang yang suka traveling. Kayaknya traveling sudah menjadi hobi paling hits akhir-akhir ini. Orang berlomba-lomba untuk mengunjungi suatu tempat, berfoto di landmark-landmark mainstream, posting di social media, lalu mendapat komen “oleh-oleh, ya!”. Padahal, dibalik sebuah jalan-jalan, pasti ada satu hal lain yang bikin si traveler puas. Ntah itu dengan belanja, ke tempat-tempat khas, wisata kuliner, atau mungkin ke museum.

Biasanya, kalau orang Indonesia gak lepas dari shopping. Bahkan banyak dari mereka yang tujuan utama dari jalan-jalan yaa belanja! Alasannya biasanya sih gak jauh dari “Di Indonesia lebih mahal!” (padahal Cuma beda 100-200 ribu), “Di Indonesia belum ada nih!” (padahal tinggal nunggu beberapa bulan lagi juga muncul), “si itu titip anu nih!” (nah ini!!). Itu lah, di Indonesia budaya oleh-oleh memang merajalela. Sejak saya kerja di Sony dan business trip bareng dealer/customer, kami selalu memberikan satu hari khusus untuk belanja. Kasian boo, bapak-bapak itu pada pusing dititipin sama istrinya…hihihi! Nah, yang tipe-tipe suka belanja nih yang susah digabung sama tipe yang lain. Bisa seharian tuuh! Hehehe..

Atau ada juga yang sukanya ke alam, misalnya kaya naik gunung. Biasanya yang kaya gini yang suka mengaktualisasi diri dan yang ingin “sendiri” dulu, lepas dari “kewajiban” bersosialisasi. Atau mungkin, malah maunya menikmati hotel saja. Leyeh-leyeh seharian gak mau kemana-mana.

Ada juga yang hobinya jalan-jalan untuk memuaskan hobi fotografinya. Nah, kalau yang ini justru enak digabung jalan dengan orang-orang dari tipe mana pun. Soalnya, diajak kemanapun, dia pasti bisa menemukan objek menarik untuk dijepret. Jadi, yang lagi asik belanja ataupun yang lagi asik liat-liat di museum, jangan khawatir kekurangan bahan foto! Hihi…

Saya sendiri, ada 2 yang selalu saya “kejar” tiap jalan-jalan. Yang pertama, its people. I want to see, to know and to learn anything about the people who live at the place I’ve visited. Ntah itu kebiasaan mereka, pola pikir mereka, bahkan kalau bisa Bahasa lokal. Rasanya tuh banggaaa banget kalau pulang-pulang dari suatu tempat bisa Bahasa lokal sana. Well, minimal bisa mesen makan di resto/café lah yaa..hihihi! Jadi inget waktu saya di Roma saat saya dibilang “perfecto~~” oleh waitress café karena saya minta bill dalam bahasa italy..yaay!!

Yang kedua, its culture and history. Menurut saya, budaya dan sejarah lah penjawab semua kekaguman tiap kita datang ke suatu tempat. Bagaimana dan kenapa suatu tempat bisa dijaga, dan bagaimana suatu tempat bisa seindah itu. Makanya, setiap saya datang ke suatu tempat, saya selalu menyempatkan untuk datang ke museum untuk tau cerita dari tiap daerah yang saya kunjungi. Lagian, mengunjungi museum bisa sekalian istirahat looh! Kan, tempatnya adem terus jalannya sambal pelan-pelan atau kadang duduk nonton videonya..hohoho!

Saya sih tidak pernah menganggap mana yang lebih baik, antara backpacking atau yang mewah, antara yang jalan-jalan sendiri ataupun yang ikutan tur. Semuanya sih sama saja, karena intinya jalan-jalan itu escape kaan..Kan sayang, kalau sudah keluar biaya tapi kitanya sendiri gak puas..ya gak siih??

Yang hobinya traveling, pasti sering mengalami tercengang-cengang melihat sesuatu. Entah itu suatu tempat, suatu gedung, ataupun kejadian tertentu. Entah itu buatan manusia ataupun ciptaan Tuhan yang disajikan melalui fenomena alam. Kalau saya sendiri, ada beberapa hal yang masih berbekas hingga sekarang, bagaimana saya terheran-herannya saat melihat suatu hal pada saat saya traveling.

That super great Great Wall, 2013.

That super great Great Wall, 2013.

Saya masih ingat komen saya dan teman-teman saya sewaktu kami mengunjungi Great Wall, China, Atau yang biasa disebut Tembok Besar China. “Ini pasti yang bikin alien. fix, gak masuk akal gimana manusia jaman dulu bisa bikin tembok setinggi dan sepanjang ini!”. Begitu lah kira-kira. Ya bener juga sih…untuk naiknya saja biar gak capek sampai disediakan kereta gantung karena letaknya di atas bukit. Bayangin, di atas perbukitan, ada bangunan setinggi sekitar 30 Kaki, dengan panjang sekitar 8000 KM. Dan pembangunan pertamanya pun dimulai dari tahun 772 SM dan dilanjutkan secara terus-menerus hingga ratusan tahun kemudian, hingga jaman Dinasti Han. Jaman dulu pun segalanya pasti manual kan?? Ratusan ribu orang pasti berkorban untuk membangun tembok ini.  Sewaktu saya mengunjungi great wall, guide saya pun menerangkan kalau di dasar tembok ini, banyak terdapat mayat-mayat rakyat jelata/tahanan perang yang dipaksa bekerja untuk membangun tembok tersebut. Pikiran yang terlintas oleh saya waktu itu..”woh, seru juga malam jumat di sini….”

360 degrees of the magnificent grand canyon

360 degrees of the magnificent grand canyon

Saya juga tidak berhenti-hentinya berdecak kagum saat mengunjungi Grand Canyon, USA. Kali ini dengan tema fenomena alam, otak saya tidak berhenti membayangkan bagaiman proses terjadinya ngarai-ngarai raksasa yang ada di hadapan saya waktu itu. Membayangkan proses tumbukan lempeng pasifik dan lempeng benua amerika utara yang membentuk pegunungan purba, lalu membayangkan air laut yang naik hingga menenggelamkan pegunungan tersebut dan membentuk ngarai yang dalamnya bisa mencapai 1600 M itu. Sepanjang mata memandang, kita hanya bisa melihat lereng-lereng berbatu dengan sungai colorado yang mengalir diantaranya. Baru kali ini saya berada di suatu tempat, pemandangan menakjubkan berada 360 derajat disekeliling saya. Berfoto menghadap kemana pun sama saja pastinya. Apalagi ketika menaiki salah satu titik tinggi di sana. Aiih, cakeeepp banget dah!

Tapi memang sih, kalau yang namanya alam selalu dengan mudah bikin orang nganga. Sesimple apapun, seperti yang saya alami ketika mampir sebentar di bukit Malimbu, lombok. Saya yang berdiri di bukit hijau penuh rerumputan dan pepohonan, terpaksa dibuat terdiam sambil mangap ngeliatin lautan biru dibawah sana. Birunya….biru bangeet!! Mata saya sampai seger berasa kena air gara-gara yang diliat dari ujung ke ujung warnanya biru laut. Saya dan teman-teman sampai minta diantarkan oleh supir untuk mampir sebentar besoknya ke Malimbu lagi sebelum mengantarkan ke airport. Lama-lama duduk di atas bukitnya, kayaknya bisa bikin segala galau hilang. Hahaha!

When blue and green being one, there's no more you can be feeling blue in here

When blue and green being one, there’s no more you can be feeling blue in here

Perjalanan religi biasanya sudah pasti mampu membuat orang berdecak kagum saat melihat langsung tempat bersejarah bagi umatnya. Kalau dalam kasus saya, sewaktu saya diajak beribadah haji oleh orang tua saya saat saya masih berumur 13 tahun. Saya masih ingat saya malas diajak manasik haji karena waktu itu saya tidak mau ikut orang tua saya untuk ke tanah suci. Tapi begitu melihat Ka’bah di hadapan saya langsung……tanpa sadar mata dan pipi saya basah oleh air mata. Too holy and too sacred, itu yang ada dalam benak saya waktu saya pertama kalinya melakukan tawaf. Dan yang selama ini saya hanya bisa terheran-heran bagaimana orang bisa bertahan berdesak-desakan bersama ribuan orang lainnya mengitari ka’bah, saat itu saya pun terheran-heran bagaimana lega dan lapang rasanya saya berada di hadapan Ka’bah bersama ribuan jemaah haji lainnya. Benar-benar Allah maha besar atas segala sesuatunya…

Tidak semua memang tempat yang bisa membuat kita berdecak kagum dan tercengang hingga menimbulkan kesan yang mendalam pada perjalanan kita. Bahkan sesuatu yang kita awalnya tidak bereskpektasi lebih, bisa sanggup membuat kita untuk datang berulang kali dan tetap duduk terdiam untuk menikmati keindahannya. Those are mine, what’s yours?

 

 

Have you ever heard about the slow traveling? It’s always been my biggest dream to do the slow traveling around the world. Gimana gak enak, kalau di saat jalan-jalan kita gak perlu pusing mikirin jadwal karena banyak maunya sementara waktu yang kita punya tidak banyak. Mungkin agak susah untuk pegawai kantoran macam saya merencanakan slow traveling karena keterbatasan waktu cuti. Apalagi untuk slow traveling di luar negeri! Akhirnya, saya dan Tati akan mencoba slow traveling ke Jogja! Gimana gak selooww, orang rencana di sananya saja bias sampai 5 hari! Ngapain aja coba di Jogja 5 hari hayoo…

(more…)

Terkadang, yang namanya kesialan pun bisa menjadi cerita lucu. Seperti yang saya dan Tati alami pada hari kedua kami di Siam Reap.  Hari itu, kami berencana untuk menyaksikan sun rise di Angkor Wat. Hari sebelumnya, kami sudah mengutarakan niat kami ke Yoyo, supir tuktuk langganan kami selama di Seam Reap.  Menurut saran dia, kami harus sudah siap di jemput sebelum pukul 5 pagi.

Sesuai dugaan, saya dan Tati agak kesiangan dan baru berangkat dari hotel sekitar 5.15. Yoyo pun langsung memacu tuktuknya membelah udara pagi Siam Reap yang dingin. Dingin yang membuat saya dan Tati khawatir, karena sebenarnya dingin itu berasal dari mendung yang menaungi langit. Sebenarnya saya agak yakin kalau hujan masih lama. Tapi yang bikin tambah panik adalah saat Yoyo berteriak dari kemudinya kepada kami, “It won’t be raining soon, but I’m afraid you can’t see the sun rise because it will be blocked by clouds!” …arrgh! Sudah bangun pagi (meskipun tidak mandi :P) tapi kalau tidak dapat sunrise rasanya percuma. Dasar sableng, kami pun hanya cengir-cengir pasrah sambil menyilangkan jari berharap mujur.

Sesampainya di Angkor Wat, ternyata sudah ramai sekali dengan turis-turis yang juga ingin menonton sunrise.  Yoyo pun menyuruh kami untuk buru-buru masuk kompleks Angkor wat agar tidak terlewat sunrise dan bisa mencari spot yang bagus. Di dalam, sudah banyak sekali turis-turis yang menggelar tikar, membawa kursi lipat, memanjat reruntuhan dan segala macam tingkah lain demi mendapatkan spot yang bagus untuk menonton sunrise.  Saya dan Tati pun duduk di salah satu reruntuhan yang dulunya mungkin pintu masuk Angkor Wat. Dari foto-foto, mondar-mandir, sampai duduk-duduk bengong sudah kami lakukan demi menanti sunrise. Lama-kelamaan, langit semakin terang tapi sama sekali tidak ada sosok matahari yang keliatan dari balik awan. Pasrah, kami pun hanya memotret samar-samar bayangan matahari yang sepertinya lebih memilih selimutan di balik awan. Sial, tau gitu kami juga masih lanjut selimutan kalii!

Hanya semburat tipis dari matahari yang muncul dibalik langit yang mendung 😦

(more…)

Harus ngurus visa yah?? duuh..pasti ribet banget!

Mengurus visa memang sudah jadi momok paling malesin dan mungkin nakutin bagi tiap orang yang mau berpergian ke luar negeri.  Apalagi bagi yang sebelumnya sama sekali belum pernah mengurus visa.  Entah mengapa, rasanya tiap kalau mau mengurus visa persiapannya udah kaya ngalah-ngalahin persiapan SPMB (halah, bahasanya. Jadi keliatan umurnya berapa).  Mulai dari cari tau syarat apa aja yang harus dibawa, segala kerepotan nyiapain persyaratan, kekhawatiran ditanya macam-macam saat interview, bahkan sampai deg-degan nungguin passport kembali ke tangan beserta cap atau stiker visa.

Sampai saat ini saya sudah pernah mengurus visa aussie, US, schengen, KSA, UAE, dan korea selatan. Masing-masing proses punya drama tersendiri, kecuali KSA karena waktu itu diurus travel agen buat haji, atau aussie dan US karena waktu itu masih kecil dan ngintil orang tua. Well, yang bener-bener gwe inget dari pengurusan visa aussie dan US adalah, tiap hari gwe selalu diwanti-wanti sama keluarga, “kalau kamu ditanya, mau ngapain disana, jawab aja ‘I’m going to holiday’. Inget yaa!”. I think that was one of my first english sentence other than “hello, my name is Yoan”. Hahaha!

Drama yang paling tidak mungkin saya lupakan adalah UAE. Dua kali saya mengurus UAE. Yang pertama sudah pasti gagal dan yang kedua lolos saat injury time. Yang pertama, hanya gara-gara saya wanita dewasa (tsaaah), belum married dan tidak berangkat dengan orang tua. Padahal saya berangkat dengan Oma. Tidak peduli dengan segala bukti kalau saya adalah cucu kandungnya, pokoknya tolak! hiiiks..:( Tapi ditolak serta-merta itu mungkin gak terlalu bikin stress dibanding di-pending tanpa kejelasan, ditarik ulur, padahal jadwal keberangkatan sudah semakin dekat. Usaha kedua saya apply visa UAE benar-benar sampai menguras emosi. Kali ini, saya merasa PD karena berangkat dengan orang tua. Eeh, ternyata dipermasalahkan dengan alasan gak masuk akal : Di saat pulang, saya dan orang tua saya tidak kembali ke tempat yang sama. Saya kembali ke Indonesia, orang tua melanjutkan perjalanan ke Belanda. Argh! kenapa juga masih dipermasalahkan coba, padahal kami sudah berniat untuk meninggalkan negaranya, kan? Lucunya, begitu visa saya keluar, justru visa orang tua saya yang belum keluar. Lah, katanya kalau masuk harus barengan?? diiih! Untungnya visa ortu saya pun keluar, H-2 menjelang keberangkatan! Jyah…

Waktu saya mengurus visa Schengen, tidak ada drama super heboh seperti UAE. Kecuali saya yang harus keluar lagi karena salah ukuran foto dan mati bosan nunggu antrian gara gak bawa bacaan dan baru inget kalau semua gadget harus dititipin. Tapi rasanya, mengurus visa Korea Selatan adalah yang paling mudah, cepet, dan gak berasa. Bayangannya, antrian bakal panjang dan di dalam bisa berjam-jam nunggu. Jadilah waktu itu saya dan gerombolan datang pagi-pagi banget. Datang jam 9 pagi…jam 9.15 sudah beres!! Tinggal bawa dan masukin syarat-syarat yang diminta, gak ditanya apa-apa, diminta bayar 30 USD (dalam rupiah. Waktu itu saya bayar 294.000 tergantung kurs hari itu), dan voila! kita pun dikasih kuitansi tanda bukti pengambilan. Cukup menunggu 4-5 hari kerja, bisa deh diambil paspor dan visa kita. And what i mean by “masukin syarat-syarat yang diminta” is the only requirments they want. Only those. Gak perlu masukin itinerary pesawat atau bookingan hostel seperti yang biasanya dengan heboh dipersiapkan atau ditanyakan kalau mau apply visa negara lain. Karena ternyata segala macam dokumen kaya gitu disingkirkan. Padahal waktu itu saya sudah sempet lari ke mobil karena dokumen-dokumen itu ketinggalan di mobil. Bisa nih, dicek ke web-nya kedutaan korea buat ngeliat syarat-syarat visa yang dibutuhin di sini

Well, intinya sih buat nyaipin Visa gak perlu terlalu panik. Jangan terlalu percaya berbagai macam takhayul seperti kedutaan yang menolak nama-nama tertentu atau pun paspor yang masih kosong.  Siapin segala macam berkas-berkas yang diperlukan, siapin juga bukti-bukti yang menunjang kalau kita gak akan “ngerepotin” atau mencoba tinggal secara ilegal di negara mereka. Kalau gak mau repot, udah mulai banyak kok travel agen yang melayani pengajuan visa. Tapi tentu saja jadi mahal banget. Biaya Visa mungkin hanya 500 ribu, tapi biaya agen jadi 2 juta. Belum tentu lolos lagi..heaaah! Nikmati aja setiap prosesnya, bisa jadi pengalaman buat ngajuin visa kooo…Ayo, buktiin kalo pemegang paspor ijo Indonesia bisa mandiri dan keliling dunia 😉